Showing posts with label Ratu Zueliana. Show all posts
Showing posts with label Ratu Zueliana. Show all posts

Monday, 25 February 2013

Jejak-jejak


Jejak-jejak itu mulai samar terlihat,
mulai memburamnya kisah sebuah perjalanan,
aku yang tak mampu menimbang rasa,
kian lelah dan terpuruk dalam lembaran usang,
antara mimpi dan jaga sudah tak ada beda,
... aku meradang ketika jalanku penuh kubangan dan tak lagi mudah,

masih terlukis jelas di benakku,
gambaran sebuah harapan dalam kenyataan,
namun tak mampu ku genggam dengan tanganku yang lemah,
ku merasa hilang kendali di diri,
ku merasa telah berakhir duniaku,
hingga satu persatu titik-titik pencerahan kuatkan aku,
berjalan dengan tertatih diantara kerumunan yang membuatku pusing,
aku lelah,,sungguh aku lelah,,

*By: Ratu Zueliana*

Sunday, 11 December 2011

Kau adalah inspirasi

Ku nyanyikan lagu sebagai penghormatan
atas karyamu yg mengagumkan,
begitu hidup dalam barisan kata-kata,
yg selalu kunikmati disetiap waktu senggangku,
indah mempesona penuh makna,
sebuah mahakarya yg kan selamanya terkenang,

Abstrak makna dalam rangkaian lusuhku,
hanya mampu mengulas gundah
dengan hiasan sedikit senyuman tipis,
mengiringi perjalanan hari yg tak pernah teduh,
mencoba tegak layaknya karang,
namun segalanya memang butuh waktu,
tak semudah kepalkan tangan tuk meraih impian,

Kau adalah inspirasi yg tak pernah putus,
kaulah semesta penyemangat jiwa,
pemberi tuntunan dikala aksaraku mulai samar,
kau suluh dalam langkahku menuju cita,
kau adalah bintang,,,,,
kau adalah nyawa dalam setiap goresan,
kaulah panglima gagah perkasa dalam pergulatan pena.

*By: Ratu Zueliana*

Desahan nafas malam kian tersengal,

Desahan nafas malam kian tersengal,
nyaris putus dalam rangkaian kata yg tak seirama,
ingin mengaduh karena luka terasa semakin perih,
setitis air mata pun telah menguap bersama awan,

Ku dendangkan lagu merindu
diantara gemerisik dahan-dahan tertiup angin,
nyanyian tanpa kata yg kian menambah buram
wajah sang malam,
suara gemuruh bergema hantarkan liri-lirik yg lusuh,
berharap berita bahagia mengetuk dengan lembut jendela hati,

Bila kau dapat sadari,,,,,
akulah sang pembawa amanat yg setia itu,
mencoba mengukir indah dijantung alam,
agar dapat kau lihat dan kau kenang selamanya,
bila suatu saat nanti langkah kakiku pergi meninggalkanmu,
mengikuti gerak sang waktu dan bumi dalam rotasinya.

*By: Ratu Zueliana*

Thursday, 8 December 2011

Menatap dengan seksama,

Menatap dengan seksama,
melihat bintang-bintang berkedip dibalik awan,
tak mampu ungkapkan perih,
tecekal keresahan mengiringi langkah sang waktu,
menuju perapian malam hangatkan tubuh yg kian menggigil,
beku terbalut rindu pada hari-hari yg telah terlewatkan,

Tunggal jiwaku penuh kepedihan,
mengingat rumahku seperti penjara,
rasa tak ingin aku kembali pada kediaman yg telah
membelenggu diri ketika hatiku dan hatimu menyatu,
tapi aku bukan kejahatan yg pantas kau cela,
bukan juga tawanan cinta yg pantas tuk diadili,
karena aku hanyalah sang lara dalam kesunyian,

Dalam kata-kata yg samar kucoba berbicara,
menyentuh hatimu agar kau dapat pahami,
bahwa kini dan nanti ada jalan
yg mungkin dapat kita lalui bersama lagi,
meski harapan kian tipis bahkan sepertinya tiada,
namun cinta kan menguatkan segalanya,
hanya keyakinan yg mampu tumbuhkan semangat,
jangan kau lemahkan asa yg kini mulai muncul kembali.

*By: Ratu Zueliana*

Wednesday, 7 December 2011

Sebelumnya tak pernah ku hiraukan,

Sebelumnya tak pernah ku hiraukan,
betapa kesabaranku akhirnya telah meninggikan egomu,
teriakanmu lantang tanpa akal mengumbar wacana,
memikat semesta turut dalam argument yg menyesatkan,
arogansi dalam jiwa yg kerdil telah merajai hatimu.

Ketahuilah bila hatiku tiada lagi terikat dengan hatimu,
biarlah bayang-bayang yg telah lalu terkubur direlungku,
jangan pernah coba bangkitkan lagi hasrat dalam kalbu,
karena kematian atas rasa kini telah menjemputku.

Mungkin hanya malam yg mampu pahami,
segala gundah yg terluapkan sungguh tiada arti,
tak perlu membuatku jadi membencimu,
karena derita yg kau beri telah menandai kebekuan hati,
hingga semua itu akan membuatmu mengerti,
betapa cinta yg kumiliki
melebihi besarnya cinta yg menyandingmu kini.

*By: Ratu Zueliana*

Renyah tawa

Renyah tawa terdengar memecah keheningan,
sapa canda semesta iringi gontai langkah sang malam,
luapan kegembiraan terasa begitu kuat disorot mata itu,
namun disalah satu sudut ruang hampa terlihat buram,
kusut dan lesu tanpa gairah mengikat sukma,
letih mencumbu bayangan diantara daun-daun kering
berguguran.

Tersedu pertiwi ratapi kerontang dijiwa yg tersesat,
melihan bayangan sang maut yg kian mendekat,
ketakutan terbaca dari segala ekspresi yg terpancar,
ku tutup netra dan coba rasakan yg telah terjadi,
belahan jiwa yg telah terenggut cinta diantara dua bintang.

Sirna sudah kebahagian dari penantian panjangku,
terampas oleh kepalsuan yg senantiasa membelenggu,
hingga tiada kurasa manis tercicipi walau hanya
diujung lidah.
jiwa nelangsa meminang janji-janji beralaskan dusta.

*By: Ratu Zueliana*

Monday, 5 December 2011

Bila esok tiada

Semburat rindu kian meracu dibibir malam,
angan mengembara didataran kalbu,
sekilas senyuman menguap bersama awan,
gerimis alunan tembang jiwa tiada lagi kesejukan,
terapung diatas gelombang yg mulai surut.

Bumi telah memaksa ku menuju jalan-jalan
yg tak ku inginkan,
meski kicau burung dipagi hari bernyanyi merdu
namun kesunyian semakin merambah sukma,
hingga aku merasakan kematian itu telah begitu dekat,
menjemputku dengan kemegahan kereta kencana nirwana.

Bila esok tiada lagi jantungku berdetak,
bukan karena ku tak ingin hembuskan nafas dikedamaian,
namun hari telah membuatku enggan tuk bersua,
dan tangan-tangan perkasa kegelapan
seolah tak ingin melepasku dari cengramannya,
hanya kepasrahan dalam doa ku senandungkan,
semoga harapan dapat nyata kumiliki penuh kepastian.

*By: Ratu Zueliana*

Lengkung pelangi

Lengkung pelangi menggeliat diujung senja,
meratapi malam yg mulai merayap menghampiri,
pesona langkah sang bidadaripun mulai terlihat samar,
tertutup kegelapan dipintu hati yg kian sunyi.

Sepotong awan mencumbu bayangannya,
menggulung mimpi-mimpi dimalam kelam,
larutkan berbagai macam rasa digelas-gelas cinta,
halilintarpun memotong hasrat menggenggam bintang.

gemuruh gelombang rasa getarkan dada,
meliuk nyiur ditepian pantai cinta dengan gemulai,
namun lekuknya tiada lagi seindah dulu,
pertautan cinta kian memburam tanpa sapa,
tiada tatapan seindah mentari pancarkan kehangatan,

Aku mulai lelah hingga tak lagi mampu mengeja kata,
wajah kusut karena sang hari selalu mencibirku,
hina raga tersaput debu tanpa makna dan pesona,
membius jiwa tanpa akal dan kesadaran didiri.

*By: Ratu Zueliana*

Kala ku berjalan

Kala ku berjalan pada nyata yg menelanjangi hari,
aku merasa begitu asing dalam peradaban,
waktu telah membunuhku tanpa kesempatan,
mengoyak jati diri hingga menguliti sebagian jiwa,
kala malam menjelang,,,,,,,,,,,,
awan mengantongi bintang-bintang dan rembulan,
hingga tak satupun cahaya menyinari dalam gulita.

Bukit-bukit terlihat hanya bayangan dikejauhan,
menertawakan setiap celah hitam didinding sukma,
aku terpaku didataran sepi terikat bimbang,
sepoi sang bayu hanya hembusan tanpa makna,
tiada lagi kesejukan memeluk rasa dibatas impian,
tak lagi berdaya dalam genggaman kegelisahan.

Kugoreskan kata demi kata mewakili malam,
menyanding segala kegelapan yg perkasa,
takkan terlewatkan hari ini dan untuk selamanya,
menggali kenangan dipikiran cinta yg telah lalu,
dan menguburnya diantara kebengisan zaman.

*By: Ratu Zueliana*

Saturday, 3 December 2011

Ketika jalan-jalan kebahagiaan mulai tertutup,


Ketika jalan-jalan kebahagiaan mulai tertutup,
kuatkan kaki-kaki mu tuk tetap selalu melangkah,
berdirilah tegap meski harapan telah terkikis waktu,
biarkan hasrat dan keinginan itu pun tetap ada,
karena harapan kan selalu menyertai dalam setiap doa.
...

Cinta kan menjadi penyelaras dalam maya dan nyata,
mutiara jiwa kan senantiasa pancarkan cahayanya,
walau debu-debu jalanan menyelimuti perut bumi,
tamamkan selalu rasa tuk selalu mengasihi,
hingga tercipta asri taman impian hati penuh bunga.

Aku rindu buaian rasa yg dulu,
singgah kemudian berpaling dan menghilang dari hadapan,
kelemahanku telah menyeretku kedalam derasnya arus
prahara dijiwa,
terombang-ambing dan terdampar dipulau cinta yg tak bertepi,
bukan aku yg salah,,tapi hati telah memilihnya,,
dan menjadikannya bagian atas malam yg sungguh kelabu.

*By: Ratu Zueliana*

Thursday, 17 November 2011

Tangis tertahan diperut bumi,

Tangis tertahan diperut bumi,
memacu luapan magma kegelisahan mengalir deras,
lewati lereng-lereng kasih yg mulai mati rasa,
membakar rumah cinta dan menjadikannya abu.

Langkahpun terhenti
kala baru sepenggal perjalanan terlewati,
tak mampu lagi berdiri karena jiwa begitu lemah,
tangan-tangan keyakinan sudah tiada kuat lagi
menggenggam erat,
talipun telah putus hingga ikatanpun lepas,
ranting kering itu kini berserakan,
semakin rapuh tersengat panas,
dan kala hujan turun diapun ikut basah.

Aku menggigil dalam kerontang dijiwa yg lara,
aku menangis kala sumber mata air telah mengering,
aku hanya mampu basuh wajah dengan keringatku
sendiri,
tubuhku pun begitu lusuh dan terlihat dekil,
harapan telah jauh tinggalkan masa,
hanya sekeping hati yg masih tersisa,
berharap bersatunya kembali cahaya,
dalam jalinan suci keabadian cinta.

*By: Ratu Zueliana*

Beranda jiwa kini mulai sepi,

Beranda jiwa kini mulai sepi,
dinding kalbu penuh goresan tanpa makna,
cinta merangkul kebisuan tersangkut kelu diujung lidah,
hanyal dan mimpi bergentayangan bagai iblis,
memasung jiwa dalam gelap dikelam malam.

ku coba sembunyi dalam bilik usang yg kian lusuh,
rapuh terkikis galau hempaskan jalinan terikat janji,
naungan kasih tiada lagi terkecap nyaman,
seruan jiwa begitu lantang pecahkan genderang,
hingga aku pun kian jadi tuli dalam kebisingan.

Desahan nafas kegembiraan tak lagi kurasa,
hanya detak jantung yg semakin melemah,
ketukannya kini mulai lambat dan nyaris terhenti,
kematian atas rasa menjemputku dengan paksa,
tanpa mampu berkelit dari cengkraman duka lara.

*By: Ratu Zueliana*

Didasar telaga pembaringan sunyi,

Didasar telaga pembaringan sunyi,
kulantunkan tembang jiwa paparkan aksara bisu,
mengeja bait demi bait desah nafas kasih,
bimbang bersatu dalam kerajaan cinta yg fana,

gema nada terpantul didinding jiwa,
getarkan nurani alirkan risau dan keresahan yg dalam,
terperosok diparit-parit pengorbanan sebuah rasa,
tanpa ku pandang lusuh diri teraniaya.

kesadaranku tak lagi membidik keyakinan,
antara jaga dan mimpipun tiada beda,
membaur dalam kelam tersekap keindahan semu,
mencoba lepaskan namun kekuatan tak lagi ada,
tersimpan dalam relung tak mampu luapkan,
penantian panjang melemahkanku dirumah kegelisahan.

*By: Ratu Zueliana*

Kuurai air mata

Kuurai air mata lalui lembah angan,
tiupkan rasa pada keluh kesah jiwa yg terlunta,
dibibir rindu kupinang cinta dalam dekapan mesra,
rajutan benang diatas helaian kasih selembut sutra,
menunjuk satu bintang tuk terangi pikiran malam.

rapuhnya batu-batu berserak ditepian jalan kenangan,
menabur benci penuh debu kotori kornea,
hingga terhalang jarak pandangku karena perihnya,
lelah kubasuh karena noda telah terlanjur lekat.

menggulung kisah bersama titik-titik keresahan,
rinai hujanpun tak lagi mampu sejukkan sukma,
terbakar belenggu dalam kobaran api asmara,
gersang dijiwa lukapun tergores begitu dalam.

*By: Ratu Zueliana*

Kusentuh nurani penuh kerinduan,

Kusentuh nurani penuh kerinduan,
penuh harap pada rindangnya dahan-dahan,
mengelilingi samudra tanpa batas impian,
menari mengikuti derasnya gelombang cinta.

kupekikkan rasa pada langit diujung senja,
kurentangkan sayap menyambut datangnya malam,
sang rembulan mulai pancarkan sinarnya,
menembus gumpalan awan-awan selimuti bintang.

lembah-lembah mulai terlihat sepi,
gunung-gunung berdiri tegap dengan angkuhnya,
hanya sang ilalang yg masih terjaga,
menari gemulai dihamparan yg gersang,

dan aku,,,dan hanya diriku,,,
bernyayi sendu disudut malam,
berdiri diatas sejengkal tanah yg kerontang,
berharap keraguan tak lagi menyapa dibiduk cinta,
hingga keyakinanpun mengikat jiwa dengan nyata.

*By: Ratu Zueliana*

Saturday, 12 November 2011

Sejuk sepoi

Sejuk sepoi sang bayu menyentuh raga,
riak air sungai terlihat jernih mengalir,
kubasuh wajah bahagiaku penuh kedamaian,
nikmati seteguk harapan akan cinta yg nyata.

ranting-ranting seakan turut merasakan,
suka cita rasa tersemat dalam jiwa,
lambaian dedaunan turut menyambut ramah,
menari-nari diantara tebing-tebing impian.

duhai jiwa dalam naungan kasih,
aku datang mengetuk pintu hatimu,
memberi salam untuk kata demi kata yg tercurah,
dan atas pemberian satu makna yg begitu indah.

*By: Ratu Zueliana*
Photo By: Mariyasa Eddie.
Lokasi : Tabanan-Bali.

Kertas telah basah

Kertas telah basah dan kuas pun tak dapat melukis kata,
tinta tumpah dan habis terbuang sia-sia,
sebagian aksaraku telah hilang dan musnah,
lalu apa yg hendak ku gores,
lukisan apa yg sanggup kucipta,,
kekosongan dalam benak membawa resah,

malam pun mencibirku dalam renungan,
entah apa yg telah terjadi disudut hatiku yg kian risau,
memahat rasa yg mulai gambarkan sepi,
sebentuk hati retak diantara dua busur yg menancap,
aku hanya bisa diam,,terpaku membisu,,,
dalam relung yg mulai remuk redam terhantam belenggu.

kupaparkan rasa dalam coretan kelabu diatas air mengalir,
terhapus jejak oleh arusnya yg dangkal,
menggulung mimpi tenggelamkan harapan,
dijejak-jejak langkahku yg kini mulai samar.

*By: Ratu Zueliana*

Gemericik riak air anak sungai mengalir,

Gemericik riak air anak sungai mengalir,
searah sang surya menuju peraduan,
lewati lembah dan dusun-dusun yg sunyi,
basahi jiwa yg jauh terpisah dari gelak tawa,
bahagia terkikis oleh arus kesedihan.

bagai menabur pasir ditepi pantai,
rasa sia-sia ku bangun segala asa dalam cinta,
mencumbu bayangan yg hanya semu,
tersangkut diantara hayal dan mimpi,
terhimpit nurani tanpa mampu terjaga.

pesona kasih sejuta pesona,
membuatku mabuk tanpa kendali diri,
rasa bahagia hanya khiasan tanpa makna,
guci-guci pun kini retak dan pecah,
jatuh ketanah tanpa mampu ku tahan,
jiwa dan raga ku lunglai dalam kesakitan.

*By: Ratu Zueliana*

Wednesday, 9 November 2011

Desir angin membelai raga,

Desir angin membelai raga,
menelusup kepori sejukkan jiwa,
terkatup netra terbuai mimpi indah,
melayang diantara awan membentuk bayangan.

terbawa arus badai impian,
terdampar diatas bukit dalam naungan senja,
gerimis membasuh wajah yg mulai kusut,
aku duduk menatap kabut selimuti lembah.

anganku kian melayang,
menuruni bukit lalui dataran hijau penuh bebatuan,
pepohonan berdiri kekar menantang langit,
daun-daun melambai menari dengan gemulai.

kusadari langkah telah semakin jauh,
letih mulai hinggapi jiwa yg rapuh,
kuterjaga penuh tetes keringat membanjiri tubuh,
kiranya mimpi bertaut dalam peraduan,
raga lunglai terkapar terbuai asa kehidupan fana.

*By: Ratu Zueliana*

Akulah mahluk terhina,

Akulah mahluk terhina,
akulah nestapa penuh noda,
akulah sang lara penuh dosa,
akulah jalang titisan para iblis,

akulah karang atas lautku,
akulah langit atas bintang-bintang,
akulah semesta atas peradaban,
akulah bukit-bukit atas lembah,

aku bukan siapa-siapa,
aku antara fana dan nyata,
aku adalah khiasan dalam sebentuk kata-kata,
akulah jejak-jejak yg tertinggal,
tertutup debu dan akhirnya menghilang.

*By: Ratu Zueliana*