Showing posts with label Sunyi Tanpa Aksara. Show all posts
Showing posts with label Sunyi Tanpa Aksara. Show all posts

Wednesday, 30 January 2013

DUHAI ADINDA


DUHAI ADINDA

Meragu rayu dipupus senyum gemilang
Mengikat remang kembang disimpul
utas hati
... Mengulum wangi hamparan puspa taman asri
Melagu kidung jiwa disemerbak kemilau paras
Duhai adinda nan jelita, kumbang mana yg tahan menolak senyum mu
Kumbang manakah yg takan memuja elok raut mu

Duduk berdendang, mengukir awan dibalik asa
Rekah kembang mengirai kelopak, bawa buai di relung kalbu
Senyum hati ku, gelak bahana jiwa ku, sedang murai berkicau melagukan cinta
Menatap engkau yg tengah tersenyum, melambaikan jemari pada ku
Aduh mak, rasanya tapak tapak kaki ini tiada berpijak pada bumi yg layak
Laksana melayang seluruh jiwa, terpagut manis senyum mu

Duhai adinda, panah asmara mu tak hanya mengusap kalbu ini
Kau bidik kelu jiwa ku, dalam segurat asa indah tentang cinta
Kau bakar kebekuan hati ini, dengan kehangatan tatap mata mu
Dan kau semaikan kembali benih benih cinta yg tlah binasa

TUBIR DUKA


TUBIR DUKA

Seribu japa terlantun, selaksa doa terungkai lirih
Ketika lipu kalbu diharu sendu, dan tiada bayang
menyapa raga
... Samar sapur cuaca mata,
tertatap hampa
digenggam kalbu
Berjuta rasa dipeluk jiwa, berpalung mimpi
disebaris wajah bahagia
Dan hasta jiwapun tak
henti terentang,
menggapai langit
berpinta cipta doa
Agar lekanglah gelap hima, dipacuan arah yg
tlah terenda

Namun harap tak seindah gambuh dialunan senja
Bahagia kian terbelam, harsa tak terenggut
atma
Bahkan senyumpun lintang pukang, terejam duka yg tiada jeda
Kian sesak sempitlah
gelanggang dada, dipacu waktu kesendirian rindu
Keakuan terhentak miris,
raga kecewa dalam urai
Meraung dalam pekik, melolong menyentak bara direlungan luka

Merona rasa kian rawan, membunga sedan
Terpasung kalbu
dijalinan cinta nan mengelam
Langkah terketam redam, diantara angkara
dan rindu
Dibatas sebaris
ketulusan kasih yg memancang halau gelegak api
Lidah jiwa membeku kelu,
diamuk sribu warna rasa yg kian membekap nurani
Terkatung rebah
diantara seribu warna rasa yg melebur dalam
hati
Cinta pada akhirnya hanya melegamkan
semua sendi sendi kalbu ini

PERGI MU MEMBAWA RASA KU


PERGI MU MEMBAWA RASA KU

Pada aksara kerontang, halang jalang merambah
Menggurat nyalang diatas kerak kerak merah, tanah basah
Udara berkabut, berbuih tuba diselaksa ruang
... Sajak sajak jiwa berhamburan, terberai perih
Remuk tergilas, diatas tumpukan basah, merah tanah pusara mu

Pada sayap sayap jiwa kedukaan, gumpalan kabut berteriak perih
Menerobos relung jiwa, menikam rebah rasa yg tergoyah
Bersarang pada sudut ruang hampa, terpatri tanpa jeda
Menggerogoti dinding-dinding hati yg kian rapuh
Menghentak tajam, mencabik sisa kenyataan yg tak lagi menjadi angan
Adakah duka yang lebih
pekat lagi tuk kurengkuh
Sungguh semua ini sepertinya tak pernah adil, pergimu tak hanya menyisakan lara
Namun jua membawa semua rasa yg ada, ke dalam timbunan basah tanah merah pusara mu

Lintas tangis itu kian mengendap, mengerang disudut senja ini
Melukis dinding-dinding kusam tanpa
ritme, hingga gumpalan lara ini
kian mengeras cacat
Meninggalkan jejak hitam yg kian membatu dibilik jiwa

Sekejap bayangmu melintas


Sekejap bayangmu melintas
Menjelma dalam buih buih di kepundan rasa
Menghentak karam, melibas hening rindu terpendam
Lalu kueja nama mu, laksana ayat ayat yg terbingkai di awan
Dan kutemukan sebait makna tentang diri mu
... Tentang arti kehadiran mu di sela langkah kehidupan ini

Retak pualam tak jua menggilas hati
Terberai kisah, hanya cerita di ujung suratan
Cinta tak bergeming, menjulang angkuh diatas singgahsana hati
Merebak dalam getar, melebur disegenap aliran nadi ku
Berpacu merambahi arteri jantung ku, berpusar dalam satu bayangan.,wajah cinta mu

DOA DIBALHK KELAM


DOA DIBALHK KELAM

Jelaga kian pekat
Tak terusik dihembus angin
Jatuh luruh bertumpu lekat
... Membekas legam di dinding hati
Bagai jejak lukisan kelam
Bersimpuh rebah diharibaan duka

Wajah mendongak, hati berbisik
Tangan terentang, bibir mendoa
Bergurat asa, dilantun dalam kidung
Menatap raut sang Bhagawan dalam hiba
Jatuh luruh air mata jiwa, bagi khilaf yg dikenang

Diselempang harapan, bincang terurai resah
Kutahbiskan selaksa dzikir, di reruntuhan hati
Semogalah asa tak hanya terkecap dalam bincang
Dan restu langit tersibak indah bagi jalan
Disela bias pancaran kemilau kasih NYA

Monday, 28 January 2013

engkaukah itu ???


engkaukah itu ???

Engkaukah itu?
Yang berbaring
dikumpulan awan gelap
... Memandang sayu dalam ragu, dibalik sisa bara yg masih bergolak
Tiada bincang, tanpa aksara
Mematung hambar tiada
sinar kegairahan

Engkaukah itu ??
Yang disetiap senja ku, kerap menikamkan bait
bait rindu di dadaku
Dan meracuni hutan kosong
dan kupu-kupu bersayap hitam terkapar di telaga kering sunyi
Hingga selalu membuat aku rebah, tenggelam
dalam genangan sesalku
Diantara serpihan mimpi panjang yg mengusir
angin hingga menyelinap
ke balik lembah

Engkaukah itu ??
Bidadari cinta yg enggan lekang dari
persemayaman
singgahsana hati ini
Membuat aku melolong bagai serigala terluka,
tertikam bilah bilah tajam
sang malam
Dan mengerang lirih seusai senja beranjak ke
malam
Diantara baluran rindu yg smakin mencekik leher
leher jiwaku

Sunday, 27 January 2013

AKU SEORANG PECINTA


  AKU SEORANG PECINTA

Aku adalah buih buih nafas sang malam
Dan air mata langit adalah anggur penyegar jiwa ku
Menyejukan luka ku, meski masih terasa perih di ujung nadi ini
Memeluk duka ku dalam hangat keteduhan nya
Membias selaksa wajah wajah riuh dibalik erangan kelam

Aku adalah senyuman patah wajah sang bumi
Hanya menampakan wajah kebekuan, dibalik uraian bincang aksara
Dan cinta
adalah guratan nafas ku, dari kehampaan rasa
Membias tanpa kemilau, menggulir tanpa nyanyian ruh
Membisu namun tak binasa, terbaring kaku namun tak mati

Dalam kesunyian
langit, saat hantu
malam memeluk semua ciptaan, aku melihat
segala sesuatu,
kadang-kadang
bernyanyi, dan berbisik.
Kadang jua bergemuruh melontar bara kemarahan
Namun kerap pula berkilauan dalam sinar kuning keemasan
Dan aku hanya mampu menatap keheningan malam yg telah membuatku terlena, dengan kegairahan ku
Tetapi aku tetaplah seorang
pencinta, dan aroma cinta adalah kesadaran
yg membuat matahati ku tetap terjaga

=MERPATI=

Aku, ada dalam diriku


Aku, ada dalam diriku, meradang nyalang, namun kerap sayu
Jiwa ini dibalut selaksa mimpi mimpi
Aku tercipta tuk jadiabu-abu, bagai persimpangan senja dan malam
Aku tak pernah ingin menjadi siapa pun, jua dirimu
Kerna aku adalah aku dan berada dalam diriku

Aku punya cinta, seharum mawar, seindah melati
Dan kukecup selalu kelopak cinta ku, dengan segenap aroma rasa ku
Kerna cinta bagi ku suatu ketulusan rasa, bukan sekedar nafsu
Kerna bagi ku, cinta suatu kelembutan jiwa, dimana wajah kesejatian menampak tegas
Diantara guratan warna hatiku dalam satu kemurnian kasih

Aku ada dalam diriku, dalam kebenaran rasa yg tak tergoyah
Tiap detik aku takut menjadi palsu
Tiap saat aku tak hendak berubah rasa, berlalu dari kesejatian
Kerna aku punya cinta yg tulus, tak lekang oleh masa
Kerna itu aku tetap berada
dalam diriku.

Aku, selalu terobsesi pada kematian
Sebuah perjalanan penuh harapan
Tempat dimana
kebahagiaan sebenarnya berada
Tempat dimana letak
kedamaian yg sejati berada
Tempat dimana wajah kekasih tengah menanti aku menjemputnya

Aku, tidak punya
hasrat, harapan bahkan mimpi pun tak ada
Aku tak ingin hanya menjadi
sebuah cerita.
Aku inginkan cinta,
kebebasan dan
kedamaian, bersama kekasih

Friday, 25 January 2013

Sunyi Tanpa Aksara

Aku mendengar angin malam menangis, dan aku bertanya,
''Mengapa engkau menangis, wahai sahabatku angin malam ?''
Desiran mu begitu menyayat kudengar, bagai ratapan anak yg kehilangan ibunya,
Dan sang anginpun menjawab lirih,
''Sebab aku kesepian. Kulewati hamparan lembah, hanya keheningan yg kudapat.
Dan akupun melintasi hamparan gurun nan luas, hanya kesunyian yg menemaniku.
Aku kesepian, berkawan dalam kesendirian, memagut kehampaan''.

Dan akupun mendapati, seekor belibis putih yg tengah terisak lirih
Lalu akupun bertanya,
''Mengapa engkau pula menangis dikeheningan malam ini, duhai belibis putih nan elok ?''
Dan sang belibis pun mengepaknya sayapnya, seraya mendekati dengan lunglai
Dan jawabnya padaku,
''Aku menangis dikesendirian malam ini, mengenang kekasihku yg kini tak tahu dimana berada.
Dan disini ditelaga sepi ini, tlah tujuh purnama aku menantinya. Menanti janjinya tuk kembali padaku''.

Dan samar samar aku mendengar dalam diriku sendiri, erangan lirih dibalik rupa
Mendesah dalam kepedihan, mengerang dalam kelukaan
Dan aku tak mampu tuk bertanya, dan aku tak mampu lagi untuk menjawab
Bahkan tuk mengingat apa yg tengah terjadipun aku tak tahu
Yang kurasakan hanya ketiadaan dibalik wujud purwa ini

Lalu aku berjalan menyusuri sisa malam, melepaskan sgala penat ku atas bincang alam
Mengeja makna demi makna yg disampaikan awan kepada bumi
Mengurai arti demi arti yg diucapkan air kepada tasik
Tak syak lagi hampa, sepi dan kelukaan hanya berujung pada isak perih
Hampa, sepi dan kelukaan hanya melukiskan raut ketiadaan makna