Showing posts with label Abdullah Tahir. Show all posts
Showing posts with label Abdullah Tahir. Show all posts

Monday, 4 March 2013

Tangan Tergari Berbau Kikir


Tangan Tergari Berbau Kikir

bagaimana kubisa mengungkap bicara
dalam temaram pelita yang penuh jelaga
ada derita berkampung di bibir kehidupan
... tak pernah usai hingga senja menjamah malam
merekalah peribumi yang tidak terbela nasib
setelah berdekad mentekuni tanah tandus
yang dasarnya mengalir air rahmat
mereka tidak bisa menggapai harap
dalam pedih hati dan terkalang mata
tangan-tangan tergari berbau kikir
sedang cacing-cacing aman berlindung
melembab lingkungan
mencipta legasi dengan akal membelit
dalam keberadaannya yang kukuh bersatu
merekalah bakal menimbuni pundak
memutihkan mata para penekun
terjepit dalam ketandusan yang tak terbela.

Abdullah Tahir - 4 Mac 2013.

Saturday, 2 February 2013

Sculpture Alam


Sculpture Alam

kaumasih terhormat
sejarah lalumu
tercatat kemas dalam lipatan
... pada hati setiap yang mengenalmu
kauadalah penyumbang keindahan
dan keutuhan lingkungan
kaulah sumber kepada yang berkepentingan
keberadaanmu di sini
menjadi wadah dan ilham
membangun minda.

kini
meski tanpa dibaluti kehijauan
dan rimbun dinginmu
kaukekal berbakti
dengan cara dan gayamu
memukau mata
mencabar minda
pada baktimu sebagai sculpture alam.

Abdullah Tahir - 1 Februari 2013.
Sculpture Alam

kaumasih terhormat
sejarah lalumu
tercatat kemas dalam lipatan
pada hati setiap yang mengenalmu
kauadalah penyumbang keindahan
dan keutuhan lingkungan
kaulah sumber kepada yang berkepentingan
keberadaanmu di sini
menjadi wadah dan ilham
membangun minda.

kini
meski tanpa dibaluti kehijauan
dan rimbun dinginmu
kaukekal berbakti
dengan cara dan gayamu
memukau mata
mencabar minda
pada baktimu sebagai sculpture alam.

Abdullah Tahir - 1 Februari 2013.

Sunday, 27 January 2013

Dedaun Itu


Dedaun Itu

dedaun itu
puas dibuai bayu
bersiul dan berlagu
... menganyam seribu rindu
menadah diri di awan biru
tanpa jemu
tempat unggas dan burung bertamu
menghias alam mengundang ilmu
dituai dan diramu
dibuat ubat jamu bermutu.

akan tiba saat dan waktu
daunpun lemah dan layu
jatuh melayang di perdu
kekadang terhempas di batu
sesetengahnya dicakar dan disapu
dikumpul menjadi satu
lalu dibakar hangus mengabu.

akankah kita seperti itu?

Abdullah Tahir
27 Januari 2013
Dedaun Itu

dedaun itu
puas dibuai bayu
bersiul dan berlagu
menganyam seribu rindu
menadah diri di awan biru
tanpa jemu
tempat unggas dan burung bertamu
menghias alam mengundang ilmu
dituai dan diramu
dibuat ubat jamu bermutu.

akan tiba saat dan waktu
daunpun lemah dan layu
jatuh melayang di perdu
kekadang terhempas di batu
sesetengahnya dicakar dan disapu
dikumpul menjadi satu
lalu dibakar hangus mengabu.

akankah kita seperti itu?

Abdullah Tahir
27 Januari 2013

Meraup Kasih


Meraup Kasih

rija-rija hati berdoa di pucuk palma
mencari terang sinar mantari
bergayut harap di kanvas awan
... masihkah memandang bumi
pada hijau rumput semakin menguning
sedang setitis embun enggan mendakap
kering sebelum pagi meramas pasir
lalu ke manalah hati meraup kasih
bumi harapan gersang dibakar mantari

Abdullah Tahir - 26 Januari 2013
Meraup Kasih

rija-rija hati berdoa di pucuk palma
mencari terang sinar mantari
bergayut harap di kanvas awan
masihkah memandang bumi
pada hijau rumput semakin menguning
sedang setitis embun enggan mendakap
kering sebelum pagi meramas pasir
lalu ke manalah hati meraup kasih
bumi harapan gersang dibakar mantari

Abdullah Tahir - 26 Januari 2013

Perjalanan Akhirku


Perjalanan Akhirku

kiranya hanyatku mengiringi benamnya mantari
saat pandangan semakin senja
bersemadi dalam pekatnya buana
... tatkala lidah dan hatiku kelu tak bermaya
ringankan hatimu dengan bisikan keramat
membimbingku dengan lapaz suci
mengingatkan aku
- Allah itu tuhan yang disembah
-Muhammad itu rasul-Nya
agar mudah perjalananku meniti sirat.

kiranya aku terpanggil mengakhiri hayat
dalam keadaan tenang atau payah
jangan kausukarkan perjalanan akhirku
dengan tangis dan ketidak-relaan
kerana kupasrahkan segalanya
aku adalah milik-Nya
seorang pengembara pengutip amal
dengan hayat yang dipinjamkan
atas keyakinanku
bahawa hidup dan matiku
adalah kerana-Nya.

Abdullah Tahir - 26 Januari 2013.
See More
Perjalanan Akhirku

kiranya hanyatku mengiringi benamnya mantari
saat pandangan semakin senja
bersemadi dalam pekatnya buana
tatkala lidah dan hatiku kelu tak bermaya
ringankan hatimu dengan bisikan keramat
membimbingku dengan lapaz suci
mengingatkan aku
- Allah itu tuhan yang disembah
-Muhammad itu rasul-Nya
agar mudah perjalananku meniti sirat.

kiranya aku terpanggil mengakhiri hayat
dalam keadaan tenang atau payah
jangan kausukarkan perjalanan akhirku
dengan tangis dan ketidak-relaan
kerana kupasrahkan segalanya
aku adalah milik-Nya
seorang pengembara pengutip amal
dengan hayat yang dipinjamkan
atas keyakinanku
bahawa hidup dan matiku
adalah kerana-Nya.


Abdullah Tahir - 26 Januari 2013.

Saturday, 19 January 2013

Dingin Semakin Dini

malam diboncahi gulita pekat menyengat
gerutu waktu singkat tiada saat menunggu
mengisi galau fikir menzikiri kolam hati
yang menata dalam carian destinasi.

meski jelas pada sebuah lingkup
termaktub pada firman dan hadis
masihkah terjerat dengan pilihan
dalam celaru akal dan nafsu
menentukan tekad sebuah nawaitu
sedang tarikan nafas dan gerak nadi
nikmat mata dan hati
cukup mengungkap kebenaran
dan dalil yang jitu.

kembalilah melalui lorong yang lurus
menapaki jejak-jejak para syuhada
yang kental iman dan takwanya
mentasbih maha pencipta tanpa ragu
dan syirik
jadikan gulita malam sepi
tunduk kepada-Nya
mencari redha
dicelah-celah dingin semakin dini.

kekangan dan hambatan
adalah cabaran dalam pencucian diri
bagi sebuah perjalanan yang jauh
pada syurga dijanjikan.

Abdullah Tahir
19 Januari 2013
Dingin Semakin Dini

malam diboncahi gulita pekat menyengat
gerutu waktu singkat tiada saat menunggu
mengisi galau fikir menzikiri kolam hati
yang menata dalam carian destinasi.

meski jelas pada sebuah lingkup
termaktub pada firman dan hadis
masihkah terjerat dengan pilihan
dalam celaru akal dan nafsu
menentukan tekad sebuah nawaitu
sedang tarikan nafas dan gerak nadi
nikmat mata dan hati
cukup mengungkap kebenaran
dan dalil yang jitu.

kembalilah melalui lorong yang lurus
menapaki jejak-jejak para syuhada
yang kental iman dan takwanya
mentasbih maha pencipta tanpa ragu
dan syirik
jadikan gulita malam sepi
tunduk kepada-Nya
mencari redha
dicelah-celah dingin semakin dini.

kekangan dan hambatan
adalah cabaran dalam pencucian diri
bagi sebuah perjalanan yang jauh
pada syurga dijanjikan.

Abdullah Tahir
19 Januari 2013

Friday, 18 January 2013

Bunga Ilalang

Photo

Tak Pernah Tuntas

kauhebahkan jalan hari depan
pada sebuah pembesar suara yang bisu
dan kaku
bagaikan melontar batu pada dinding
melakar sebuah makna kehidupan
dari sebuah gema lantunan
yang dibaris-rangkaikan bait-bait puisi
dan sarat cita
berirama mengiringi malam dini
dalam sorak sorai di garisan pemisah
antara yang lama dan baru
ditandai paluan muzik yang menyenak
dengan ribuan pecikan bunga api
itulah detik-detik membezakan
bagi memaknai hadirnya diari baru
disaluti azam yang tak pernah tuntas

Abdullah Tahir - 1 Januari 2013

Saturday, 3 December 2011

Bersama Najis dan Bangkai

kekadang musibah bertali-temali
menyungsung waktu
sama ada suka atau tidak
pasti datang menjenguk
menguji tabah dan percaya diri
saat diri menderita kerananya
adalah teladan kepada yang lain
atau medan kebajikan dan pahala
bagi mereka yang mengertikan hikmah
bagi yang leka terus menyalahkan diri
tanpa mau bercermin dan muhasabah hati
dan kerananya terperangkap
menjadi dosa atau kifarat
atas kejahilan sendiri
lalu jadilah bagai dedaun layu
terdampar kering dimamah masa
larut bersama timbunan najis dan bangkai
yang tiada niai dan harga diri

Thursday, 17 November 2011

Hidup Ini

hidup ini semakin singkat dan sendat
ruang-ruang yang ada menyepi 
bagai menuju malam yang kelam dan ngeri
tiada waktu yang tepat
kapan diri akan sendiri
menutup pintu yang terakhir

saat usia semakin hampir mengundur diri
lalu diripun seakan tidak terpeduli
kerana qualiti semakin mati
bicara dan fikir tidak bererti
siapakah yang mahu memahami
sedang dalam lingkunganpun menghindar diri
akhirnya bersendiri
menjalani hari-hari akhir
meningkatkan taat dan menanti takdir
menghitung waktu dengan berzikir
atas sejadah yang tak pernah mungkir

Saturday, 12 November 2011

Tidak Hanya Yang Zahir

turunmu kuat sekali
getarnya bingit sangat di atap
bicaraku tak mampu menungkah
dalam bilik yang tak bersiling
di luar kau mengganas
mengguyur mencipta alur
melebar menjadi bah
tidak bisa menghitung titikmu
tiba-tiba saja kaki terendam
sejuk dalam genang air
bicara menjadi beku dan bungkam
dimana-mana air membanjir
melungsur runtuh bukitan dan gunung
melintang pukang kayu dan balak
bungkam dan tepu segala fikir
air yang cair adalah banjir
mengukir peritiwa mutakhir
dan DIA tak akan hanya menurunkan yang zahir
tersirat akan hadir
bagaikan musafir dan fakir
andai mereka mampir
jangan di usir kerana lahirnya
hulurkan bicaramu bersama mubaligh

Saturday, 29 October 2011

Aku Adalah Pemuka Pencapai Syurgamu - by (Abdullah Tahir)

telahku lunaskan jasamu
dengan degup nadiku yang kencang
bersama juraian airmata pekat
di atas sejadah setia
menyaksikan aku di hadapan-Nya
dalam kegelapan malam pekat
yang getar dan panasnya
tidak bisa kau rasakan
walau halusnya deria kulitmu
menyentuh setiap sudut sanjunganku
layakkah aku memperlihatkannya
kalau hanya cuma keegoanku
bagi memenangkan betapa tajamnya cintaku
agar duri-duri kasihku
menikam pada baloi sayangmu
yang kau tumpahkan dengan kesetiaanmu
tanpa bicara lebih kepada perbuatan
dengan urat dan tenaga
tanpa mengukur waktu
yang setiap darah setiamu
mengalir menuju pintu-pintu syurga
yang terpilih
dan aku hanyalah pemuka
rintis laluan mudahmu
mencapai syurga