Sekelebat bayang wajah diantara ranting cemara
siapapun dia
... aku di sehampar pasir
tak bisa dekat
menulis namamu berkali-kali
dihapus ombak
ditelan tanya
diamuk badai
dicumbu gelisah
dinda, seuntai senyummu menghias pagi
embun kau biarkan menyentuhmu
buatku cemburu
buatku berlalu
buatku menepis cinta yang berliku
buatku lelah dalam menunggu
dinda, gemuruh debar dadaku
membongkar album lama kita
rindu yang menetes diujung daun cemara
eksodus ke pulau-pulau karang
kau semai cinta pada trumbu
dan ikan-ikan berbagi denganmu; mengadu nasib
menari di jemarimu
mengecup keningmu
melingkarkan peluk dipundakmu
meraih rambut hitammu
Betapa hatiku; hanya tersenyum
yang menunggu
rindu dengan kesetiaan
rindu pada kapal-kapal yang kau layarkan
rindu kehangatan cinta kita yang sama
melebihi cintamu padaku; cintamu pada tanah air
cinta kita memberi ruang tunggu pada laut
karang, trumbu, nener ikan dan penyu
Agar seperti angan-angan kita
jadi taman laut dengan ekosistem yang asri
Dengan pulau terluar yang terjaga
Kalau bukan kita, siapa lagi
Telah lepas satu demi satu
Karena kita tidak punya banyak waktu
Bukan sekedar cinta
Tidak mengapa kita berbagi cinta pada sebuah harapan
Cinta sesungguhnya hanya kerja yang nyata
Bukan mengumbar kata-kata
Bukan merentang tali sepanjang batas
Bukan mengukur secara topologi
Betapa rindu dan cinta kita telah terpatri
sebesar nama Arung Palaka dan Patih Gajahmada; Jalesveva Jayamahe
Batulicin, 02 Februari 2012
Perahu, Rumahku 15
Jam 08.17
Showing posts with label Johansyah Bunyu Fac. Show all posts
Showing posts with label Johansyah Bunyu Fac. Show all posts
Wednesday, 1 February 2012
Mentari Tenggelam Ditanganmu
Tetapi kehangatan itu telah tercampak
seperti lembar kalender yang kau sobek
buang dan diterbangkan angin
Tatkala berjuta debar masih ada
sedangkan daun kering menumpuk
di bangku; sehabis sekolah
kita memungutinya
ronci jadi topi kerajaan
kau ratu dan aku raja
ah, indah mesra saat itu
Tetapi kau ingin meraih hangat itu kembali
sedang jarak telah jauh merentang pulau
dan mentari bagai tenggelam; ditanganmu luruhnya
Batulicin, 01 Februari 2012
Rumah Pasir 41
jam 19.45 WIT
Thursday, 22 December 2011
BAHASA MAYA
Dan setiap ku tulis tentangmu; selalu saja kandas
Beribu aksara rebah lunglai
Kenapa tidak bisa
Sekedar merangkai kata
Meski sudah mulai dari alinea; hingga tidak ku lanjutkan
Aku tetap tidak bisa meneruskan ke alenia berikutnya
Dan setiap ku goreskan kuas ke kanvas; selalu saja henti
Sekian warna siap ku saji
Hingga hanya sebuah garis tertuang
Segaris yang tidak berbentuk
Walau sudah ku buat sketsa atas wajahmu
Semua jadi lukisan tiada berwarna; kehampaan belaka
Dan setiap ku coba bicara denganmu; di beranda
Tiada kata; kebisuan merengut suaraku
Hening di antara kita; bahkan kalimat - kalimat itu
Menjejalkan hasrat yang hendak keluar berdesakan
Dari pintu hatiku yang merapatkan sanubari
Tiada satupun kunci yang membuka
Dan setiap ku diam; matamu berisyarat
Aku takut tiada lagi bahasa yang bisa ku tangkap
Hanya diam saja; manakala aku punya kata - kata
Yang tersimpan di belahan otak hingga hati
Kenapa tidak bisa juga mengutarakannya; ketahuilah
Bahwa aku tidak suka basa basi; jujur aku pendiam
Dan pagi ini biarlah aku mengakhiri kebisuan
Mengenalimu lewat bahasa mudah
Bahasa dunia maya yang mendunia
Tulis statusmu; dan kubaca
Ku beri dalam sebuah koment
Begitu lebih mudah; meski kita telah kehilangan rasa
Batulicin, 07 Desember 2011
Penikmat Fajar 54
Jam 09.55 WIT
Beribu aksara rebah lunglai
Kenapa tidak bisa
Sekedar merangkai kata
Meski sudah mulai dari alinea; hingga tidak ku lanjutkan
Aku tetap tidak bisa meneruskan ke alenia berikutnya
Dan setiap ku goreskan kuas ke kanvas; selalu saja henti
Sekian warna siap ku saji
Hingga hanya sebuah garis tertuang
Segaris yang tidak berbentuk
Walau sudah ku buat sketsa atas wajahmu
Semua jadi lukisan tiada berwarna; kehampaan belaka
Dan setiap ku coba bicara denganmu; di beranda
Tiada kata; kebisuan merengut suaraku
Hening di antara kita; bahkan kalimat - kalimat itu
Menjejalkan hasrat yang hendak keluar berdesakan
Dari pintu hatiku yang merapatkan sanubari
Tiada satupun kunci yang membuka
Dan setiap ku diam; matamu berisyarat
Aku takut tiada lagi bahasa yang bisa ku tangkap
Hanya diam saja; manakala aku punya kata - kata
Yang tersimpan di belahan otak hingga hati
Kenapa tidak bisa juga mengutarakannya; ketahuilah
Bahwa aku tidak suka basa basi; jujur aku pendiam
Dan pagi ini biarlah aku mengakhiri kebisuan
Mengenalimu lewat bahasa mudah
Bahasa dunia maya yang mendunia
Tulis statusmu; dan kubaca
Ku beri dalam sebuah koment
Begitu lebih mudah; meski kita telah kehilangan rasa
Batulicin, 07 Desember 2011
Penikmat Fajar 54
Jam 09.55 WIT
Subscribe to:
Posts (Atom)