Showing posts with label Alam Penyair Maya. Show all posts
Showing posts with label Alam Penyair Maya. Show all posts

Saturday, 12 November 2011

MUNAJAT BISU

malam kian menjejak di setiap tebing
kala gontai kakinya merambah belukar
menyusur setiap jerit tangisnya
yang menakar pada kelamnya langit malam

hai tebing-tebing waktu
inilah kakiku yang terantai seribu warna
kala hamparan semesta menjuntai haru
merasuk sukma-sukma galauku di palung jiwa

hai lembah-lembah bisu
tak lelahku menyangganya di altar jiwa
sekira kau dapat tembangkan alunan rinduku
pada tenda yang bertahta di selasar jiwa

laylaku ...

kurapal segala aksara dalam namamu
pada setiap detak-detak nadimu
yang meronta dalam setiap kobaran jiwa
membakar segala cinta di palung nirwana

tegakkan ku laylaku

pada setiap hamparan doamu
yang membumbung bak tarian api
pada setiap rinai air matamu
yang mengalir bak sungai eufrat

inilah aku tebing-tebing waktu
sang perindu dalam maqam kematianku
bernista dalam segala corak cinta
menabur segala duli pada rasa tak bertepi

inilah aku lembah sunyi
yang menyimpan duka cinta lara
mencumbu waktu pada setiap dinding goa
merindu dan bercerita pada dinding-dinding bisu

inilah aku laylaku
yang terjerembab pada duli sang puan
menaruh harap pada kisah-kisah sang perindu
meratap dalam untai-untai rindu tak terperi
lembah bulusaraung
121111 : 10.52 WITA

KETIKA AKSARAKU HANYA DIAM

malam kian melantunkan bait dinginnya waktu
kala sesosok tubuh bermahkota langit diam dia altar batu
menerawang diam didinginnya hembusan sang bayu
bermandikan debu-debu lalu yang mengisah di setiap kelu

pun kala lolongan srigala pecah sunyi malam
tak gerak di altar nadi yang bergerak
larungkan seribu noktah dalam bias rasa yang mengelam
dan hamparkan seribu aksara di hitamnya semesta

layla ...

adaku melebur dalam setiap sukmamu
dalam seribu goyah nadiku berdetak atas namamu
dan ketika diamku meraja di singgasana malam
temukanlah ia di setiap sisi lembah-lembah kelam

dengarlah ...

pada lolongan srigala malam yang memelas
kutitipkan namaku di antara deritanya
agar tetap bertahta di setiap detak nafasmu
kala seribu resah menghantar bait-bait malammu

lihatlah ...

payung rembulan yang merona malam
mengukirkan namamu atas pinta yang tak berkesudahan
pada setiap warna yang menyemat di indah matamu
tatkala larik-larikmu mengubah malam menjadi syahdu

katakanlah laylaku ...

setiap desah rindumu pada hempasan ombak laut malaka
agar kesah itu melarung hingga ke anak-anak sungai
pada sang bayu yang menyisir tanah-tanah legenda
agar tertiup pula sampai ke lembah sunyi ini

di sini
aku dan kerinduanku
diam tak bergeming
menoktah di setiap kisah
malam kian melantunkan bait dinginnya waktu
kala sesosok tubuh bermahkota langit diam dia altar batu
menerawang diam didinginnya hembusan sang bayu
bermandikan debu-debu lalu yang mengisah di setiap kelu

pun kala lolongan srigala pecah sunyi malam
tak gerak di altar nadi yang bergerak
larungkan seribu noktah dalam bias rasa yang mengelam
dan hamparkan seribu aksara di hitamnya semesta

layla ...

adaku melebur dalam setiap sukmamu
dalam seribu goyah nadiku berdetak atas namamu
dan ketika diamku meraja di singgasana malam
temukanlah ia di setiap sisi lembah-lembah kelam

dengarlah ...

pada lolongan srigala malam yang memelas
kutitipkan namaku di antara deritanya
agar tetap bertahta di setiap detak nafasmu
kala seribu resah menghantar bait-bait malammu

lihatlah ...

payung rembulan yang merona malam
mengukirkan namamu atas pinta yang tak berkesudahan
pada setiap warna yang menyemat di indah matamu
tatkala larik-larikmu mengubah malam menjadi syahdu

katakanlah laylaku ...

setiap desah rindumu pada hempasan ombak laut malaka
agar kesah itu melarung hingga ke anak-anak sungai
pada sang bayu yang menyisir tanah-tanah legenda
agar tertiup pula sampai ke lembah sunyi ini

di sini
aku dan kerinduanku
diam tak bergeming
menoktah di setiap kisah
.
Lembah bulusaraung
111111 : 22.37

.

Tak ada kata lagi

tak ada kata lagi
kala jemari itu menunjuk sebuah awan yang berarak
awan dimana selalu dititpkannya sebuah rindu
awan yang diharapnya dapat menyampaikan sesaknya

tak ada lagi kata
ketika sebuah nama diukirnya di luasnya semesta
nama yang selalu menjadi noktah di setiap desahnya
pada setiap detak-detak nadi yang mengalir di darahnya

tak ada lagi kata

kala pagi menyeruak, hembuskan rindu tak berujung
kala terik mentarik, hamparkan rasanya
kala senja berlabuh, biaskan namanya
kala malam menjadi kelam, merintihkan kepala rindunya
.
TAK ADA LAGI KATA
.
lembah bulusaraung
111111 : 13.05
1919