Showing posts with label Muhammad Rois Rinaldi. Show all posts
Showing posts with label Muhammad Rois Rinaldi. Show all posts

Monday, 30 January 2012

PERTEMUAN KATA KITA

setiap pertemuan selalu saja melahirkan wacana, sejumlah rencana yang kesemuanya bermuara pada bencana jiwa. masihkah kau ingin menemuiku membawa sebungkus kopi instan dan menyodorkan gelas kosong, meminta air mendidih dari dapur yang kau bakar pada musim hujan yang lalu? sedangkan puntungan rokok putih sudah berubah warna, berubah bentuk kepulannya hitam di atap rumah. sesak ...menyekat udara di sekitarku, sejumlah senyuman yang kau buang dalam asbak tak lagi terlihat wujudnya.

bilakah pada setumpuk catatan kebersamaan itu ada selembar saja ketulusan, pintu rumah ini tak berkunci, tanpa segelas kopi dan puntungan rokok akan terasa hangat dan menghangatkan, tapi sengat masih meninggalkan biru di selaput mataku . wajahmu abu-abu dan dan aku mulai kehilangan cara untuk mentafsirkan isyarat, dalam secarik kertas bertuliskan puisi itukah? :segala-galanya dipertaruhkan dalam rangkaian kata sedangkan kau dan aku tak pernah menyulam dengan benang yang sama.

Jika kau masih begitu mencintai pertemuan, telah kusiapkan sehampar tembikar di teras rumah, di atas tanah ini sesibak misteri akan terkuak. Sehingga diam-diam kau meneguk habis kopi panas, dan menelan puntungan rokok. kerongkonganmu melepuh, takkan ada lagi wacana, menjadi menjadi gagap dan senyap.

CILEGON-BANTEN
28-01-2012

Friday, 23 December 2011

LUKA JENAKA

tak ada hujan untuk hati yang tergenang
tak ada wiski untuk jiwa yang mabuk
mata menangis hanya sekilas kisah
dada terluka sepanjang perjalanan
ketika semua warna menghitam
ketika gelap lebih diharapkan

akulah wayang sekaligus dalang dalam suatu pertunjukan
kubuat skenario paling jenaka, mengundang tawa pemirsa
dan seusai pertunjukan di belakang panggung kuiris nadi
dan menangis sendiri, sepi itu amat mengerti akan rasa sakit

kebahagiaan tertumpuk di antara hari yang usang
senyum sekadar pelunas hutang di masa silam
tangis sudah aku simpan dalam lipatan malam
dan aku melangkah dalam raung ruang kosong

CILEGON-BANTEN
08-12-11

BATAS KERINDUAN

Karya : Muhammad Rois Rinaldi

bolehkah aku telanjang di hadapanmu
sudah terlalu lama kau tak menyentuhku
peluh pecah di retakan bumi, diri telentang
perih ini mencabik-cabik seisi hati. bagaimana?

tak ada harga yang harus kau bayar, kuserahkan
seutuhnya aku pasrah menjadi apa yang kau mau

degup jantung sudah bocor, aku tak lagi sanggup menghitung
setiap tetesnya mengirim aroma tubuhmu dan itu adalah luka
tapi jika kau tak jua datang untuk melumat habis kelelakianku
pada batas penantian aku menjadi sepi, menghampiri duniamu
kau takkan sanggup lagi bersembunyi, aku telah datang. telanjang

meski aku tetap tak ada di matamu, lesap dalam hatimu
kukirimkan setangkai perih dan kutaburkan lima kelopak merah
hingga wangi mimpimu berganti menjadi anyir genangan nanah
di ambang hari, pagi takkan mengirim mentari, dia telah kucuri
pada butiran embun kau akan membeku dan terjatuh dari pucuk daun
pecah, menemuiku dalam rongga-rongga bumi yang paling asing

CILEGON-BANTEN
05-12-11

GADIS DALAM KENANGAN

Di gubuk tua, wanita renta berkaca
memakai gincu, merah muda
"aku masih cantik" ujarnya
sembari melipat kain di balik kebaya

Tiba-tiba tangan kekar
menyergap punggung
aroma kejantanan
menusuk jantung
kekal dalam ingatan

Tapi dalam cermin itu, hanya ada dirinya
gegas membalikkan badan
benar saja!
belum pulang
masih berlayar
: kata orang suaminya mati tenggelam
tapi setiap menjelang malam
dia menunggu di tepian

Seorang wanita hidup dalam kenangan
meniup semprong, menyalakan tungku
menghalau dingin dalam kesendirian
terseret langkah, tersungkur di depan pintu

dalam bingkai, gambar seorang gadis pecah
berserak di keriput selaput matanya
menangis

komunitas kalam Fatahillah
4 september 2011

PELARIAN BAGIAN I

malam ini, menjelang pagi
dengan mata terpejam
kuseru namamu
di hati
ruh terlepas dari badan
aku telah menjelma menjadi hantu
membisikkan rindu dalam wujud tak tersentuh
mencabik mimpi-mimpi yang berani mencurimu
kubawa angin paling dingin, juga hujan dan halilintar
kau masih nyenyak tidur sayang, kekal dalam pelarian

CILEGON-BANTEN

Thursday, 22 December 2011

HILANG

aku terlanjur mati, sayang
tanpa alamat pemakaman
tanpa batu nisan
pun tangisan

kau juga, terlalu lama membiarkan aku sendiri
meski berjanji akan kembali aku tak cukup teruji
tertawan dinding dinding resah yang basah
hingga berlumut dan maut merenggut

percuma kau nyalakan lilin
redup pijar takkan mampu menemukanku
tiuplah, sebelum semangatmu pun turut padam
dan resah mengiringi langkah asa yang lelah

di sini liang-liang nganga, menanti kematian
meski tanpa peta, tak termuat dalam warta
namun menyimpan ribuan cerita
duka-lara anak manusia

kematianku adalah kematian paling hilang
tak terdaftar dalam cacatan google
tak memiliki akun facebook
atau alamat email
cukupkan pencarian
aku benar-benar telah hilang

01 NOVEMBER 2011
CILEGON-BANTEN

MEMBACA SURAT KECIL

aku tak tahu di mana kau akan mati
di antara geliat kota sembilan tahun wajib belajar
kau membawa karung kecil ke arah tumpukan sampah
mengibarkan bendera merah meninggalkan taman bermain

tak sudi mengemis atau meminta hakmu pada setiap mereka
karena kau tahu, lambung mereka sebesar langit dan bumi
mana cukup untuk berbagi, bahkan kadang menjadi pencuri
sedangkan kau tak tega mengusik kelaparan mereka bukan?

kau tak ingin banyak bicara, atau sekadar melantunkan duka
sebab sekumpulan penyair yang kerap meminjam namamu
sibuk menguliti diri, menutup pintu, mematikan lampu
di dalam kamar menelanjangi kata-kata

dan penghuni masjid-masjid itu?
mereka sedang menangisi dosa sendiri
meminta hujan di genting rumah
mengharap berkah untuk keluarganya
kau tak pernah ada dalam doa-doa

aku tak tahu di mana kau akan mati
di atas kardus merebahkan badan berbantalkan lengan
di depan toko malam-malammu gigil, peluh dingin menghujani
dan bintang-bintang setia menemani, di sanakah kau akan mati?
mungkin, tanpa ada yang menangisi.

CILEGON-BANTEN
05/11/2011

YANG TIADA

aku tak tahu di mana mulanya keasingan ini
masih terus kulangkahkan kaki meski terasa nyeri
seperti daun kering yang jatuh di atas aliran sungai
mengambang sampai hulu, menunggu tenggelam

pernah kucoba untuk berkaca pada mata air
pada embun di pucuk daun, pada diriku sendiri
tapi gambarannya tetap sama, kian tak beraturan
menjadi seserak pecahan topeng yang mengerikan

aku terus mencari di antara rongga dada juga kepala
tentang masa yang ada namun tiada dapat kutemukan

CILEGON-BANTEN
09 - 11 - 2011

DEMI MASA

demi masa Engkau bersumpah
kerugian adalah nyata di depan mata
tiada lumbung padi atau sekotak emas
yang melambungkan derajat azali
segalanya fana, dari tiada kembali tiada

demi masa engkau bersumpah
sombong bukan selendang manusia
meski meninggikan suara ketika fajar
akan gemetar dan patah
ketika senja menampakkan wujudnya

tundukku mengetuk pintu
bila masa yang dijanjikan datang
ruh dan raga ini akan meregang
tinggalah bangkai terbujur kaku

demi masa Engkau bersumpah
demi nama-Mu aku bersaksi

CILEGON-BANTEN
13 NOVEMBER 2011

SEBATAS KATA

sudah pukul tiga tepat dini hari,
angin berbisik padaku
“mereka bohong, sama seperti biasanya”
kupejamkan mata, bulu roma tegak berdiri
tengadah ke langit-langit perih

kuhisap rokok, kepulnya mengumpul dalam paru-paru
nampak wajah bangsa yang sedang kita bicarakan
berada di antara kepulan, hitam dan berlubang

perlahan suara-suara menjinjit langkah melarikan diri
sepi…
kubuka mata, tak ada siapa-siapa
hanya kibar lelah bendera di ujung tiang

di teras pendopo nampak kata-kata berserakan
tak satu pun dapat terbaca maknanya

CILEGON-BANTEN
19-11-2011

BUKTI DAN SAKSI KEBERADAAN

kitalah bukti dan saksi pencurian hasil bumi
darat dan laut beroramakan penghianatan
kayu-kayu tak dibiarkan menetapi tanahnya
ikan-ikan merenangi lautan asing

kitalah bukti dan saksi perdagangan harga diri
ribuan paduan suara menyanyikan lagu kebangsaan
: INDONESIA RAYA, sumbang!
sanjungan untuk inspektur upacara kemerdekaan
:penghianat yang lari dari medan perang itu

bangsa ini kawan, lahir dari darah dan airmata
tigaratus limapuluh tahun sejarah perjuangan terbentang
nenek moyangmu gugur di hutan, tenggelam di dasar lautan
kita menjadi bukti dan saksi anak cucu pejuang menjadi pecundang!

bangkit!
bangkit sebelum bangsa ini menjadi panggung lelucon
hentikan kepura-puraan dalam upacara kemerdekaan
bungkam suara-suara sumbang yang diperdagangkan
kita, kita kawan yang tertinggal dalam bentang keberadaan

CILEGON-BANTEN
28-11-11
muhammad rois rinaldi

PUISI PEMBACA

ketika kueja alfabet puisi
kusandingkan diri di antara jemari penulis
lantas bersandar pada kacamata pembaca
terangkat dan terungkap makna yang berlainan

ada yang membaca dengan senyum ranum
ada yang membaca dengan mengerutkan dahi
ada yang tak ingin membaca, malas dan mulas
ada yang bertanya-tanya di jejak pelarian penulis
ada-ada saja ekspresi dalam mengapresiasi puisi

lantas?
tak harus terhenti dan mengecilkan diri
di sini hanya ada penulis dan pembaca
yang menyemat dan melumat kata-kata
biarlah bait-bait ranum dan memetik diri

cukupkah?
mintalah lilin jika kau diterkam gelapnya
jangan meminta api dari percikan hatimu
sebab dusta dalam dada melumat segala
tundukkan makna dalam debar paling sabar
bukan merayapi aksara mengusung angkara

CILEGON-BANTEN
04-12-11

PENYERAHAN CINTA

Aku terlanjur mencintaimu
meski kata amat sederhana
tak ditemukan kamus bahasa
kutahu cukup bagimu menerima
dan simpanlah kejujuran rasa
kita telah mencinta dan dicinta
bergulatlah lagi lebih mesra
dan mari menyerahkan makna
kepada bulat mata pembaca

CILEGON-BANTEN
04-12-11

janjiku pada masaNya

aku terus berpikir tentang alam raya
pada putaran waktu yang telah ditentukan
manusia menerima titah menjadi khalifah
malaikat mengajukan banding di surga
dan Tuhan adalah dzat yang Maha Tahu

adalah aku yang terlupa akan janji azali
mengusung senjata mengadakan perang
manusia dan binatang bertukar peranan
dan batu-batu yang tertinggal lebih bernilai
ada bentang sejarah pada setiap guratan

aku terus berpikir, tentang kesombonganku
meludahi bumi, menjulangkan pandangan
menginjak kepala lain dan mengangkat diri
lantas nama-nama Tuhan kueja, kulumat
liur anyir menetes nista penuh kebohongan

aku terus berpikir tentang napas terakhir
ketika nyawa tinggal satu hembusan
apakah nama Tuhan sanggup kusebut
sedangkan saat itu tak ada lagi kebohongan

CILEGON-BANTEN
05-12-11

Thursday, 17 November 2011

BIANGLALA SEUSAI HUJAN

ibu
kutahu engkau ingin mengajukan pertanyaan
tentang kepak sayap yang membawaku terbang
tentang julang langit yang selalu aku impikan
tentang awan hitam yang kerap mengantarku pulang

kutahu, setiap malam engkau merayu Tuhan
tengadah di atas sajadah yang membasah
agar tangan-Nya segera menarikku dalam dekapan
seperti kala kecil, aku memainkan putingmu penuh cinta

ibu,
inilah masa yang tiada suka
detik-detik yang terajut seperti cuka
di antara manusia aku serupa primata
tak berani bersua meski hati berbicara

bila kau merindu,
pandangilah bianglala seusai hujan
ada airmataku yang mengaliri rumah kita
membasuh kakimu lalu bermuara di dadaku

ibu
kutahu engkau ingin mengajukan pertanyaan
dan senyum awan hitam adalah jawaban

malam semakin larut, tidurlah dengan tenang
mungkin esok aku takkan pulang, masih terbang

CILEGON-BANTEN
16-11-2011

Anak Kota


pada malam tanpa taman
sebuah kota dimandikan
aroma wangi buatan
terbungkus kafan

seorang anak berlarian
mengejar langkah pasrah ribuan pemuda
yang mengusung jasad kota di atas keranda

kaki kecilnya tersangkut rumput
melarih rintih, gemetar mengiba
:jangan kubur kotaku,
aku masih sanggup merawatnya

CILEGON-BANTEN
15 NOVEMBER 2011

LIPATAN PETA

pada lipatan yang mana dapat kubaca arah hati?
hari-hari hanya lingkaran yang membosankan
tahun begitu cepat hilang, aku tertinggal di sini
musim hujan atau pun kemarau adalah sama
sama-sama tak memberi ruang untuk menangis

di permukaan laut aku adalah ikan yang riang
berlarian ke sana ke mari bersama debur ombak
kembali ke dasar mengajak pusaran menari
sedangkan di belakang karang kutekan dada
sendiri menikmati luka, tak perlu ada yang tahu
pun karang itu, sudah berabad lalu menjadi bisu

pada lipatan yang mana dapat kubaca titik hidup?
di atas kertas buram, kubuat angka dua puluh tiga
menjadi kitab tanpa catatan tahun pembuatan
hingga saat terbaca, takkan terkira masanya

CILEGON-BANTEN
13 - 11 - 2011