Showing posts with label Dhamah Syifflah. Show all posts
Showing posts with label Dhamah Syifflah. Show all posts

Tuesday, 19 February 2013

Mimpi Malam Terus Membisu


  Mimpi Malam Terus Membisu (baru)...
19 Febuari 2013
...
Dalam merangkak merayu
kembalikan hatiku
sabit itu mencengkam kalbu
gelap tertunduk bisu

Tebaran cahaya menjaring
menerpa hati yang runcing
alunan bagai ditimbang dacing
kanan kiri tidak seiring

Pergilah kau wahai mimpi
cukup lenaku bagai api
membakar hati yang mati
kalimah itu ada di sini

Susut taburan bintang
mungkin sudah lapang
mendengar kata lintang pukang
dalam lena yang panjang

Sehingga kini terus hilang
tenggelam di hari siang
pembaharuan dari - Mimpi Malam Terus Membisu (21 Januari 2010) -
http://belayarmencaripenawar.blogspot.com/2010/01/mimpi-malam-terus-membisu.html

Mimpi Malam Terus Membisu (baru)...
19 Febuari 2013

 Dalam merangkak merayu 
kembalikan hatiku
sabit itu mencengkam kalbu 
gelap tertunduk bisu

  Tebaran cahaya menjaring 
menerpa hati yang runcing
alunan bagai ditimbang dacing
kanan kiri tidak seiring

Pergilah kau wahai mimpi 
cukup lenaku bagai api 
membakar hati yang mati
kalimah itu ada di sini  

Susut taburan bintang 
mungkin sudah lapang
 mendengar kata lintang pukang
 dalam lena yang panjang

Sehingga kini terus hilang
 tenggelam di hari siang

Belayar Mencari Penawar 49 (Laut Terganga)


Belayar Mencari Penawar 49 (Laut Terganga)

Tidak cukup,
dengan pasang surut tiba
lautan terganga
... mengukur kedalaman bahasa
peledak kemusnahan yang nyata

Ukiran baru terbina dikunyah
dimamah hingga bersepah
musnah tanpa sempat dipapah

Kasihanilah aku
masih mencari ruang temu
dalam lintang pukang berdebu
patah kayu disiku

Ini bukan pertama kalinya
pelayaran beroleh binasa
Belayar Mencari Penawar 49 (Laut Terganga)

Tidak cukup,
dengan pasang surut tiba
lautan terganga
mengukur kedalaman bahasa
peledak kemusnahan yang nyata

Ukiran baru terbina dikunyah
dimamah hingga bersepah
musnah tanpa sempat dipapah

Kasihanilah aku
masih mencari ruang temu
dalam lintang pukang berdebu
patah kayu disiku

Ini bukan pertama kalinya
pelayaran beroleh binasa

Tidurlah Sayang...


Tidurlah Sayang...

Dakap aku
dalam tidurmu sayang
biarpun burung helang
... terbang garang

Telah aku cuba
lepaskan lena yang meruncing
biarpun hujung daun kering
melenting-lenting
tidak berjalan seiring

Tidak akan putus dua
air mengalir dicelah bata
biarpun arus dihalang
biarpun arus ditentang
tidurlah sayang
biar aku jaga tombak yang datang

Cinta kita
ibarat langit dan bumi
ingin mengenggam hati
hujan mencurah membasahi
menjadi penolong
agar tengahnya tidak lopong

Jangan Ganggu Aku...


Jangan Ganggu Aku...

Sering ku terima
surat layangan cinta
melirik indah memukau kata
... terpesona... menerpa

Diam adalah lakuku
ungkapan yang bisu
ku utus merayu
dalam senyuman kaku
"Jangan ganggu aku"

Dengan lafaz bisikan
bermula malam dan siang
gelap dan terang
tidak akan bertandang
dalam satu masa panjang
kecuali hujan datang
mengeluarkan mendung garang

Aku sanjung bahasa
aroma dililit jadi rasa
biarlah untaian kata
hanya untuk dia...

Saturday, 16 February 2013

Lautan berkokok...


Lautan berkokok...

Tidaklah salah kiranya
aku bermain kata
mengalun lembut gelora
... mendakap kasih tiba

Terbitlah sinar cahaya
ditelapak tangan tidak bermata
memberi dan menerima
tanpa di paksa-paksa

Lautan deras berkocak
berkokok melantunkan ombak
tanpa siapa memahami bahasanya
keikhlasan yang cukup sempurna

Sayang
senyuman disalah kira
ditolak. diherdik
Namun apasalah kiranya
ditambah, dihebah
kita punya maruah

Biarpun kini
sesuku lagi bergoncang bumi
geraklah kaki
kejar cita-cita murni
bukan untuk aku, tapi untuk kamu yang punya diri

Lautan kehilangan ombak...


Lautan kehilangan ombak...

Tatkala malam melebarkan paksi
sang kekasih merintih sunyi
mengharap embun menitis
... membelai dahaga yang rakus

Kini tiada bahagian bicara
pujangga mati kata
terkatup jari, terkunci
bagai lautan tanpa ombak yang menari
lumrah kehidupan punah di sini

Kau dengarlah aku
tanpa suara, bisu
Kau lihatlah aku
kaku, tidak gerak walaupun suku
Kau katakanlah pada aku
"Jadilah lautan tidak getar walaupun tanpa hujan,
tidak getar walaupun kemarau berlarutan..."

Sebelas Rintikan Mimpi...


Sebelas Rintikan Mimpi...

Setitik demi setitik
menitis mencurah ke bumi
mengukir cerita duka
... menyentap nadi

Menghentikan kemarau panjang
meracik lumat sebelas mimpi
yang berlindung sembunyi
merangkai perjalanan

Akhirnya basah jua tanah kering
dalam langkah payah
terputus-putus hampa
mengharap limpahan hadir dalam senyap

Sebelas rintikan mimpi
hadirmu menyejukkan aku
dalam perjalanan yang semakin deras
dengan limpahan api semakin panas

Sebelas rintikan mimpi
bergema sunyi
Aku masih mewarnai
menyulam cinta yang mati

Seperti...
"Ombak dan pantai
bertemu hanya menyakitkan
namun itulah lumrah kehidupan
menahan derita untuk bersemuka"