Showing posts with label Dinik Suryandari. Show all posts
Showing posts with label Dinik Suryandari. Show all posts

Friday, 4 November 2011

Engkau laksana embun - by ~ Dinik Suryandari

Engkau laksana embun
Wajah indah selembut kabut
Selalu Bersinar laksana bintang
Yang selalu berpijar di hati ku
Kau pernah buatku berarti
Isi lembaran hati dengan bahagia
Taburkan semerbak harap
Namun harus ku tepiskan bayangmu
Meski berontak hasrat di jiwa
Jiwaku menangis
Meski lirih meski terisak
Suarakan bagian jiwa
Yang mencari di antara debu dan kenangan
Meski tertatih
Meski merintih
Ku lanjutkan lamgkah ini

Tuesday, 1 November 2011

Rasa - by ~ Dinik Suryandari

Rasa yang selalu hadir dalam benakku
Cinta yang semakin erat dalam hatiku
Terpaut jauh bersama suara yang membisu
Ingin diriku memiliki dirimu
Namun ku tak mampu memberikan bintang untukmu
Ingin diriku memiliki cintamu
Namun ku tak mampu membahagiakanmu
Hanya bisa bermimpi tanpa bisa terjadi
Hanya bisa mencintai tanpa bisa memiliki
Kau adalah seuntai mutiara
Yang tak pernah bisa ku gapai
Kau adalah semerbak bunga
Yang tak pernah bisa ku petik
Kau adalah setetes embun
Yang sejukkan hatiku
Kau adalah pelangi pagi
Yang tak pernah terlukiskan dalam hidupku
Kau adalah hatiku
Yang tak pernah bisa ku miliki

Terkadang - by ~ Dinik Suryandari

Terkadang aku merasa lemah
Kebimbangan terkadang juga sering menghantuiku
Selalu ku coba melawan rasa itu
Dengan kepercayaan yang penuh
Tapi apa dayaku
Aku hanya wanita biasa
Yang selalu rapuh akan perasaanku
Aku hanya seorang wanita biasYang senantiasa hanya mengharapkan ketulusan cinta
Ingin ku beranjal dari tempatku
Tapi rasanya aku tak mampu
Badan ini terlalu lemah
Untuk menopang kaki2 ku yang ingin melangkah
Tapi jika aku bertahan
Luka dan keraguan selalu menghantuiku
Untuk saat ini
Mungkin aku hanya bisa diam..
Dan terdiam...

Selepas malam itu - by ~ Dinik Suryandari

Selepas malam itu
Kau berlalu dan akupun tetap tinggal
Sambil ku dekap erat2 kepingan hati
Air mata hanya sebuah tanda perpisahan
Cinta begitu meraga, tercambuk tercabik2
Hingga luka menganga dan darah rindupun menetes
Tercecer di tanah kerontang, di tikam terik
Jejakkan kenangan, kisah usang beribu
Dan, hingga lelah menyesak
Di belahan bumi purba ini
Kau tak ada lagi
Kau telah pergi
Menggapai seribu gemerlap bintang
Mimpi terindah yang kau nantikan sepanjang usiamu
Sudahlah..
Tatap nanar ku hanya pada harap kebahagiaan
Untukmu selalu
Berdiri Aku harus tetap tegak
Mencari kepastian lain sembuhkan perih
Untuk hidup yang terus berlalu
Dengan... atau tanpa mu lagi..