Showing posts with label Bintang Kartika. Show all posts
Showing posts with label Bintang Kartika. Show all posts

Tuesday, 26 February 2013

Asin, Seperti Airmata


Asin, Seperti Airmata

aku jadi sungai saja, kanda
mengalir indah di pinggir bendang
melepas rindu pada harum lumpur petani
... berkolek sampan nelayan, kecipak sayap angsaangsa berenang
landak dan singa singgah teguk aku tanpa ragu

aku jadi sungai saja, kanda
kirimkan surat pada guruh. suruh ia memecah mendung
aku akan membelah bumi, meredam lukaluka penghuni
hanyutkan bebunga perkabungan, bangkaibangkai prahara
bila hujan turun, katakan pada rinainya;
aku ke laut menghakis tebing
mengikis bebatuan berlumut
aku ingin asin
seperti airmata.

2013

Monday, 25 February 2013

Sekeping Pilu


Sekeping Pilu

sebentuk puisi koyak di pelipis
menyeberangkan hanyir
menitiskan butir kerikil
... di dada

sebentuk sunyi membusuk
menggarami pelupuk
mengalirkan asin di pipi
mengkristal di tepian

tiada kata dapat dilafazkan
selain sekeping pilu.

februari, 2013

Thursday, 7 February 2013

Elegi Mimpi


Elegi Mimpi

musim ini hujan tidak ingin turun
harapan bergenang di sela doa
kupintal gulungan benang
... lalu kutenun menjadi selimut
untukmu menghadapi musim dingin
warnanya kelabu seperti matamu
tenang meneduhkan

di teras kumal membiru ini aku cuma terfikirkan
perlukah waktu kuhentikan sejenak
sebelum musim ini berganti
agar aku dapat merenung wajahmu
pada bulan purnama
pada redup awan
dan pelangi, juga embun

atau aku harus berdoa
supaya musim dingin segera datang
agar kautinggal di rumah
di depan perapian dengan selimut yang kutenun
pelapik kaki yang kusulam
teh yang kuhidangkan
agar aku selalu dapat membagi kehangatan tubuh
dalam pelukan sambil memandangi rinai salju yang jatuh

kekasih...inilah elegi mimpi
musim hanya basabasi
tidak ada salju, tidak ada hujan, tidak ada bunga
tidak ada selimut
yang ada hanya tangis

2013

Saturday, 2 February 2013

K A N D A


K A N D A

When I need you... I'd just close my eyes and I am with you

Kanda,
...
rengkuhmu adalah
senafas hidup
namun telah kauketatkan
geletar--gelisahku
dan aku terkapar
karam
dalam badai hati
cinta bunuh diri
mati dalam usia dini

When I need love... I'd hold out my hands and I touch love.

Kanda,

namamu masih berdetak indah
di degup jantung
tak kutahu sampai bila termampu
mengusir gundah-gerah
kala aku masih
mencari-curi
satu kesempatan
menggapai harap
hatimu jauh
tak tersentuh

Miles and miles of empty spaces between us.
The telephone can't take a place of your smile.

Kanda,

aku adalah sekarat duka
segores lara
segurat luka
dalam tertusuk
tak tersembuhkan

But you know I won't be travelling a life time.

Kanda,

sejuta adamu
adalah tanyaku
ketika harapan meletup
merajut kenang
dapatkah kutertidur lelap
tanpa terlena
digamit mimpi-impi-mu

I'd just close my eyes... and you'll right here by my side.

2013

K I T A


K I T A

kita seperti secangkir espresso
aku cangkir, kamu espressonya
cangkir itu bergambar kamu espressonya beraroma aku.

Januari, 2013

Tuesday, 22 January 2013

Kekasih kabut


Kekasih kabut

siapa lagi yang duduk memeluk lutut
di bentangan rumput kalau bukan kau, membiarkan embun menyerap bau tumitmu

... "pelarian ini kubayar mahal, kekasih," gumammu pada kabut

beberapa waktu, sebelum rerumput di lapangan ini berpucuk
kaulukai raga dengan jari telunjuk
lalu, kaumelambai
berlari kecil
meniru kepakan kupu-kupu
tidak hanya kabut
tidak hanya kenangan
aku juga berserak-sebak akhirnya

Januari, 2013

Saturday, 19 January 2013

Espresso Tiga Musim

jika hari ini musim gugur akan kupungut satu persatu dedaunan di sepanjang jalan dan taman. pada musim dingin salju memutihkan sisi bumi akan kuhidangkan secangkir espresso hangat dalam ruangan dengan perapian; untuk kita berbagi senyum.

jika musim semi akan kupetik bebunga liar dari segenap belukar dan menghamparkannya di jalan setapak tempatmu meniti hidup.

kalau hari ini hujan turun akan kubiarkan ia membasuh

: luka dan cinta

sebuah evolusi telah berakhir, kadang mengharuskan revolusi, kadang mengalir setenang riak di danau.

Januari, 2013

Sirna Renjana

kaumengebom! runtuhkan binara mencakar; jadi abu. dalam kepulan halimun debu; menjadi luka tak terperi. pada diammu nan bisu; cinta kelu. rindu telah kembung saat ia terbang dan hilang selaksa kelawar

: bingar dikepungan awan--selaksa aura yang mati.

tiap penggal kenangan bersamamu adalah luka yang kaurancap dengan belati

(ikrar sehidup-semati)

di manakah gemintang yang kaujanjikan jika senyap menyapa dalam gulita
dan sunyi meranggas dalam kelam
di mana,
di mana,
di mana gemintang itu?
oh! kanda, kamu selaksa renjana yang tidak pernah ada.

: Bintang Kartika
20130106

Hanya Sepenggal Nama

disergah bayangmu lantai hati menggigil

inilah esok dalam dera mimpi
kau dan aku tidak lagi; kita tidak lagi
berbagi resah
berbagi sunyi

lelaki; dalam jeda percakapan
bisik galauku
masih
hantui ruang hati
masih
ketuki dinding luka
meski
hanya sepenggal nama
padaku gaung ribuan kata

tapi inilah esok, di lantai dingin
sunyi merayap lagi
menuju ke lain mimpi.

:Bintang Kartika
2013

Friday, 18 January 2013

Antologi Kata

sebelum matahari beranjak pulang
telah kusiapkan sebuah puisi; menemanimu pergi
dalam belaian angin kering
musim semi ini

sebelum matahari terbit
telah kuselesaikan semua
merapikan baju yang akan kaubawa dalam perjalanan
semua sampah telah kubuang dari teras tempatku menunggumu
seribu tahun lagi jika kauingin kembali.

telah kuseka air mata
dengan tisu toilet yang panjang
dan putih
sisanya berciciran di jubin bilik mandi

telah kuletakkan antologi kata di lembaran puisi
kusisipkan di sebalik dinding teras yang kumal ini
dan secangkir espresso kelat
telah kucampur dengan sembilu
hiruplah, moga kautahu retak hati ini.

:Bintang Kartika
2013

G H A I R A H

entah ini kali ke berapa
mencium wangi kota malam-Mu
dengan ghairah yang tak pernah sudah
dalam dekap witir-Mu

: Bintang Kartika
20130102
01:45am

Tuesday, 31 January 2012

Rindu

Saja ingin aku nyatakan
hari ini aku melewati satu hari
dengan satu puisi aku lakarkan

engkau mengisi bingkai, di tempat mana yang kureka
satu wajah padanya rindu meraja

: Bintang Kartika - 31 januari, 2012

Monday, 30 January 2012

Rindu Kita Terserak

terasa lantai yang kita pijak seperti muzik
di mana rindu kita terserak
dia menahanku ketika aku ingin pergi
...
dan menarikku kembali dan kembali

Bintang Kartika - 30 januari, 2012

Thursday, 22 December 2011

Sepotong Senja Untuk Pacarku

senja ini ada darah mengalir
dari pinggir kota kita
merayap cepat menggenangi semua pelosok kota
semua merah, berdarah
kanak-kanak bermandi darah dengan ceria
remaja melihat darah dengan tawa
lelaki tua minum darah dengan gembira
sang ibu menyedut darah dengan gula

aku termangu dengan putihku yang terakhir
merasa aneh di tengah lautan darah merah, getir

ada darah mengalir senja ini
hanya sesaat
sebelum bulan purnama pun menjadi merah
aku membasuh putihku yang terakhir dengan darah
dan tertawa

kerana aku tiada lagi beda

Sunday, 11 December 2011

Songsang

"Duduk di sini", pintamu. Lalu aku duduk memandang matamu.

"Kamu cantik, tapi aku tak jatuh cinta." Jujur namun kenapa aku terasa perih.

"Kenapa orang sering bertanya siapa kamu? Siapa aku?" lanjutmu sedikit amarah.

"Kita bukan siapa-siapa.
Tapi mengapa kita bertanya, siapa kamu? Dan memperkenalkan diri dengan simbol-simbol membingungkan. Nama, jenis kelamin, umur, lokasi, asal, keturunan.
Aku ternyata bosan dengan semua itu.
mengapa kami tidak boleh bercinta tanpa harus mengenal siapa dia secara fizikal?
mengapa aku tidak boleh mencintai dia kerana jenis kelamin kami sama adanya? mengapa aku yang dipersalahkan dengan rasa ini sementara aku tidak pernah meminta.
kalau kamu bertanya siapa aku
inilah: Lelaki tanpa nama. Tanpa tempat kelahiran. Tanpa ibu dan ayah. Tanpa jenis kelamin.
Maka bencilah aku, sebab mencintai dia. Kerana identiti seperti itu penjara bagiku. Aku ingin bebas. Apa pendapatmu?"

Aku terkedu. Sepatah dariku, "songsang."

HUJAN

HUJAN

irama mendung
hujan jatuh di kolam
getar bergema

dingin jemari
bersentuhan
hujan di atas dedaun

berdentang perih
kendi kosong
dalamnya perangkap hujan

satu butiran
menyimpan oh kenangan
wajah di embun

rintik hujan
kian berkumandang
bisik irama alam

luruh bayangmu
tersapu dek hujan
jatuh semalaman

Cuaca Tak Juga Jeda

telah dua puluh kali aku lalu lalang pada lengkongan jalan ini
aku gelisah
setelah cuaca bersahabat dan tidak ada jeda
di taman ini engkau yang membuat jarak
jauh sekali
kau, memunguti air sisa hujan dan membasuhkannya
pada sekelopak bibir yang merah
dengan bibirmu, maka bibirku bergetar

Wednesday, 7 December 2011

CINTA

bagai sehelai awan
menyerap segala, matahari dan rembulan
titis hujan dan prahara

berpelataran cakerawala
maha luas
berdaya getar
tanpa sudah

adalah api dian
tanpa padam

menjadi ratapan atau pujaan
menjadi doa atau dalil
dijalin dalam pesona kata

cuma
hidup tanpa manusia dan kemanusian
hidup tanpa cinta dan menyinta
hanya
gelembung-gelembung busa

ia sepatah kata
yang dibisikkan dalam sunyi
tapi menjadi senyap
renyap di langit kosong
dan awan hilang
suara tinggal gema
cinta tinggal kata
sepatah
patah
kering

Tuesday, 6 December 2011

Untuk Purnama Yang Terlihat Menyebalkan

pada wajah malam
penyair tak cuma
terbakar ghairah keindahan
...

jika malam ini bulan lesap
atau tinggal secuil ditelan raksasa
apa yang akan kau teraskan
atas segala wajah malam?

Monday, 5 December 2011

Engkaukah

Jalan itu memang sering ada
saat penyu menggeliat
pasir meruak dalam lubang tidak bernama
selalu duduk dalam sepi
merasa sendiri...untuk matahari yang telah pergi
kacaukan ilalang yang membumi

engkaukah kekasih.....?
siluet indah dalam nyanyian pasir
hampir membiru dengan laut yang selalu merayu.