Showing posts with label Presiden Penyair. Show all posts
Showing posts with label Presiden Penyair. Show all posts
Sunday, 11 December 2011
Monday, 5 December 2011
BARANGKALI
Barangkali
Kita sudah mulai tua....
Sehingga kata-kata menjadi tak penting lagi
Kebersamaan yang indah ini
Adalah cinta yang tak berbentuk
Yang meleleh diantara puing-puing hati
Mengisi ruang-ruang berdebu
Di sela-sela jiwa
Hari-hari yang kita bagi
Adalah suka duka yang mencair
Mengaliri reruntuhan masa lalu
Menyuburkan malam-malam yang sebelumnya kerontang terbalut kesepian....
Barangkali
Kita memang mulai tua....
Sehingga cinta tak lagi terbungkus kata
Tetapi meliputi seluruh sentuhan
Yang pernah ada
Sebab kemesraan kita, seindah dunia
Kesenangan kita, seluas angkasa
Kebersamaan kita adalah perkawinan semesta
Dan hidup kita,
Adalah cermin kesenyapan nirwana....
Barangkali
Kita memang telah tua
Sehingga kata demi kata tak lagi melambangkan makna
Aksara hanyalah simbol kemnusiaan...
Yang sesungguhnya hanya menjadi alat bantu bicara
Sebab sebenarnya
Yang kita lakukan telah melampaui segala bahasa
Dan membawa kita pergi menuju pusat daya jiwa
Tak punya aroma
Tapi dipenuhi semburat bahagia...
Thursday, 17 November 2011
Lihatlah dengan mata bathinmu
Lihatlah dengan mata bathinmu
Hatiku setenang air di sendang
Pikiranku mengalir seperti air di sela-sela bebatuan
Akan tetapi tubuhku telah kalah oleh usia
Tak mampu lagi membara
Aku hanya mampu menyala di dalam tungku
Tapi percayalah, api di dalam tungku selalu menyala dan tak pernah mati
Saturday, 12 November 2011
ORANG TERBODOH (ATAU PINTAR)
Ketika seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur yang berdomisili tak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang anak kecil berlari-lari dan melompat-lompat di depan mereka.
Percakapan:
Tukang cukur berkata, "Itu Bejo, dia anak paling bodoh di dunia"
"Apa iya?" jawab pengusaha
Lalu tukang cukur memanggil si Bejo, ia lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan lembaran uang Rp. 1000 dan Rp. 500, lalu menyuruh Bejo memilih,
"Bejo, kamu boleh pilih ambil salah satu uang ini, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo nih!"
Bejo melihat ke tangan Tukang cukur dimana ada uang Rp. 1000 dan Rp. 500, lalu dengan cepat tangannya bergerak mengambil uang Rp. 500.
Tukang cukur dengan perasaan benar dan menang lalu berbalik kepada sang pengusaha dan berkata,
"Benar kan yang saya katakan tadi, Bejo itu memang anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya lakukan tes seperti itu tadi dan ia selalu mengambil uang logam yang nilainya paling kecil."
Setelah sang pengusaha selesai memotong rambutnya, di tengah perjalanan pulang dia bertemu dengan Bejo. Karena merasa penasaran dengan apa yang
Dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Bejo lalu bertanya,
"Bejo, tadi saya melihat sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp. 1000 dan Rp. 500, saya lihat kok yang kamu ambil uang yang Rp. 500, kenapa tak ambil yang Rp. 1000, nilainya kan lebih besar 2 kali lipat dari yang Rp. 500?"
Bejo pun berkata, "Saya tidak akan dapat lagi Rp. 500 setiap hari, karena tukang cukur itu selalu penasaran kenapa saya tidak ambil yang seribu. Kalau saya ambil yang Rp. 1000, berarti permainannya akan selesai..."

Pesan:
Banyak orang yang merasa lebih pintar dibandingkan orang lain, sehingga mereka sering menganggap remeh orang lain. Ukuran kepintaran seseorang hanya Allah yang mengetahuinya. Alangkah bijaksananya kita jika tidak menganggap diri sendiri lebih pintar dari orang lain
Thursday, 10 November 2011
Masih adakah
Masih adakah jiwa kepahlawanan
Jika di dalam jiwa para raja hanya bersemayam gelisah pecundang yang rawan
Masih adakah kebulatan tekad dan kemurnian smangat
Jika ternyata hanya ªϑª teriakan-teriakan sumbang yang menyengat
Tekadku bulat melaknat
Para raja pun akan sekali lagi kusunat
Tak kenal lagi rasa penat
Apalagi niat berkhianat
Kepada para pendiri negeri
Maafkan kami
Kepada pahlawan hati,
Sesungguhnya mati hanyalah sebuah pemenuhan janji
Wednesday, 9 November 2011
Mendung di langit terkatung-katung
Mendung di langit terkatung-katung
Bingung membelit seperti menggantung
Kenapa harus bingung
Lebih baik diam seperti patung
Maka aku akan menghiasi tubuhmu dengan kebahagiaan yang tak tanggung-tanggung
Aku bekerja hanya berbekal tekad sekantung
Tapi tak ªϑª yang dapat menduga saat meraih untung
Ketika aku tak berada di sampingmu
Ketika aku tak berada di sampingmu
Katakata cintaku akan melabuhi pelabuhan rindumu
Ketika aku berada di sisimu
Katakata cinta menjadi tak penting lagi
Hanya sentuhan dan tatapanku yang penuh maknalah yang membuktikan cintaku
Thursday, 3 November 2011
Mungkin - by ~ Presiden Penyair
Mungkin kau mengira, aku tak mencintaimu sedalam samudera
Kau benar, cintaku hanya sedangkal sungai
Tapi air sungai itu begitu bening sehingga setiap orang bisa melihat murninya cintaku padamu
Mungkin kau menyangka, aku tak mencintaimu setinggi gunung
Kau benar, cintaku hanya setinggu undakan kaki
Tapi dengan begitu maka kau tidak akan merasa lelah mendakinya
Aku mencintaimu, tanpa ukuran tertentu...
Aku mencintaimu, hanya kita berdualah yg tau...
Sebuah gembok - by ~ Presiden Penyair
Sebuah gembok yang sangat kokoh tergantung di atas pintu, sebatang tongkat besi walaupun telah menghabiskan tenaga besar, masih juga tidak bisa membukanya.
Kuncinya datang, badan kunci yang kurus itu memasuki lubang kunci, hanya diputar dengan ringan, ‘plak’ gembok besar itu sudah terbuka.
Hati dari setiap insan, persis seperti pintu besar yang telah terkunci,
walaupun Anda menggunakan batang besi yang besar pun tak akan bisa membukanya. Hanya dengan mencurahkan perhatian,
Anda baru bisa merubah diri menjadi sebuah anak kunci yang halus,
masuk ke dalam sanubari orang lain.
Thursday, 27 October 2011
AKU MENANGISI PAPUA
Aku menangisi papua
Aku menangisi saudaraku di sana
Aku menangisi nasib mereka
Jadi miskin di tanah kaya
Jadi merana di hamparan emas menyala
Jadi sasaran bernyawa bagi peluru-peluru para durjana
Mereka tak minta lebih
Tapi mereka malah hanya mendapatkan pedih
Sementara para cukong berkulit putih
Mengejek memandang kulit mereka yang hitam
Tak kulihat lagi indahnya biru matamu wahai bule...
Yang kulihat hanya lembaran hijau dollar yang terajah di jidatmu
Yang bagiku seperti tahi kerbau yang tak bermutu...
Aku menangisi papua
Darahku mendidih tergambar nyata di pelupuk mata
Subscribe to:
Posts (Atom)