Showing posts with label M Johansyah. Show all posts
Showing posts with label M Johansyah. Show all posts

Monday, 25 February 2013

rasakan hati


rasakan hati

aku hanya berkaca pada diri
ketakutan yang bukan ketakutan
kegelisahan yang bukan kegelisahan
... keparat kataku, berkaca sedemikian lama
hingga ketakutan serupa apa yang menakutiku
dan kegelisahan seakan menggigil, sebelumnya
telah kuajukan serangkaian pertanyaan
hei, kau ingin menyerangku juga
jika ya, percepat asah belatimu
padankan setajam sembilu
bahwa kau akan melukai aku dalam sekedipan mata, maka

aku hanya berkaca pada diri
seteruku yang mengoyakkan masa depan
adalah hatiku jua, bukan kau
atau siapa-siapa
bukan ketakutan apalagi kegelisahan

sementara tiada yang dapat membaca hatiku
sebaiknya aku menyelam bersamamu
di lautan, sungai dan semesta alam
setiap pertentangan adalah perjalanan
takkan usai sampai timbangan yang sebenarnya

Batulicin, 24 Februari 2013
Puisi Hati Bumi 12
Jam 22.47 WIT

Saturday, 16 February 2013

di rimba mana kita


di rimba mana kita

kujamah ujung-ujung juntai akar mencapai hati
dari tetesnya kehidupan manis, pahit dan getir
selagi angin melingkar, bahkan mengayun-ayun
... aku tetap di bawah rindang pohon besar menaungi
merekam kicau burung kian di ambang kepunahan

ketika keramahan dari adat istiadat mengerucut
bertemu dalam kemampatan udara merdeka
bukan hanya awan berlari, rerumputan tiada kata
pada bulat kata suara yang berbagi ketuk pintu
yang membuka adalah : TUAN BERMODAL BESAR

ketika kaki di jalan-jalan desa menghitam-mulus
kotak-kotak raksasa dan gerobak besi hilir mudik
kita hanya menjadi kibasan roda-roda besarnya
yang terhuyung-huyung menghindar gundah
kita dikenalkan pada : PENGUASA BERKANTONG TEBAL

dan sekarang buatkan aku kalimat keprihatinan
dari pundi-pundi kemiskinan dan kesenjangan
jika derap langkah mereka masih rapi selaras
berbarislah ke desa-desa membawa kabar
agar berhenti menjadi : OMONG BESAR

penguasa harus rubah pikiran, haluan dan perkataan
berayunlah dibawah rindang pohon yang sama
sama menaungi
sama menikmati
sama, jangan ada perbedaan

Batulicin, 16 Februari 2013
Puisi Hati Bumi 11
Jam 23.49 WIT

Wednesday, 13 February 2013

jawablah sekarang, ziarahi diri


jawablah sekarang, ziarahi diri

telusuri huma sejengkal hingga sedepa
takkan dapat aku membeda
tanah di kota menjadi petak-petak berharga
... hunian sudah kepayahan

nafas kita hanya di gunung
bebas sesuka buka hutan
meski tandus yang diperjuangkan
namun jauh dari kebisingan

nanti menara-menara itu akan mengejar kita
cepatlah berlari, tak lama akan berdiri
semua menjadi dekat
jangan takut jauh dari saudara dan kerabat

nanti para pengembang akan menawarkan jasa
hingga pulau-pulaupun diperjual-belikan
apalagi rumah kontrakan, mudah
hanya perlu tanda tangan

nanti akan berkumpul suatu saat
seperti pula kita saling kejar bahkan berlari
ke ziarah bumi tempat badan merenung diri
dan ruh-ruh akan saling mengenali

nanti akan ada senyum
sembari menimba di aliran sungai
tiap teguknya penawar haus dan lapar
lalu jari jemari kita mengata kebaikan yang sesungguhnya

suatu ketika, huma-huma di bumi adalah juga huma di sana
jikalah kering kerontang, apa yang telah kita perbuat
jikapun tetanaman subur lagi berbuah manis
jawanlah sekarang, jangan menunggu nanti

Batulicin, 12 Februari 2013
Puisi Hati Bumi 10
Jam 23.17 WIT

Monday, 11 February 2013

diperjalankan

diperjalankan

bait-bait puisi ini resap
mencari lubang-lubang, melabuh-tujuan
jika sampai di ceruk terdalam
lalu melantakkan hasrat terpendam
seperti dawai yang mendenting
senandungkan kata
yang lelah dari berjuta lelah
lalu kubiarkan direbah-tidurkan
di atas pasir
di atas awan
di atas jiwa
di atas segala peristiwa
dimanapun jua, puisiku hanyalah sekumpulan diam
tak berwajah paras jelita
tak juga berwujud ksatria

ku mau bait-bait puisi ini
menjemput masa depan
mengayun langkah
meresapi zaman, biarkanlah

Batulicin, 10 Februari 2013
Puisi Hati Bumi 09
Jam 22.47 WIT

tuhan, dengarlah kami

tuhan, dengarlah kami

kota bagai meratap dikepung khianat
hingga batas lengking teriak menembusi

langitpun langit tak berpenghuni
hanya makhluk-makhluk suci mencatati

langitpun langit semburatkan mendung hitam
mengumpulkan awan menjadi pusaran angin

dan manusia kepala batu, hanya menjawab dengan senyum
padahal janji itu masih terlihat basah di bibir
sedang luka dibiarkan geletak mengering-dingin
tubuh mereka penuh goresan kata-kata yang dipecut
serta ribuan kaki dipukul mundur dalam berlari menyingkir

tiada dengar, kata-kata yang lahir dari rahim kemiskinan
oroknya kering terbaring di pinggir peradaban pemuja tahta
semua saling rebutan, kebengisan bersetubuh keangkuhan
dan dari mata mereka telah berjatuhan duka-duka yang terpinggirkan
terasa darah air mata beranak pinak kebencian menyengsara

kota bagai meratap dikepung khianat
lalu sedari kecil bocah-bocah itu mengenali wajah negeri

negeri ini hanya setitik dari wajah bumi
namun angkara merajalela

langitpun langit telah meniti-tanggakan doa
naik pada tujuh undakan, akhir pengaduan

Batulicin, 09 Februari 2013
Puisi Hati Bumi 08
Jam 22.47 WIT

Friday, 8 February 2013

menjahit sehelai asa

menjahit sehelai asa

malam taklah diam
terus merenda dalam senyap

dan jarum itu telah merapikan sisi jahitan
berkali-kali lepas tusukan
mengena ujung jari lagi dalam
berulang, lukai dan pedih
namun benang terus menjulur di pintalan
sedang hati merenungi sebuah kesabaran
hingga helai-helai kain menanti

malam taklah diam
menyapa kejujuran yang memupus

dari mana lagi aku harus memperhatikan
dikala hidup tidak putih seperti sehelai kain
dalam corak dan ragam
dalam segala permintaan
dilema, keterpaksaan mengurat nadi
meski sepotong kemeja harus jadi
lalu beratkah untuk menolak

malam taklah diam
menimbun kantuk yang melarikan hati

Batulicin, 07 Februari 2013
Puisi Hati Bumi 07
Jam 22.10 WIT

Saturday, 2 February 2013

di puncak malam


di puncak malam

setiapkali mendung bergayut di matamu
dan hujan membasahi bumi, sebagiannya di hati
namun kita selalu dapat berteduh
... lalu stanza rindu ini mengalir
bersama hujan dan tembusi bebatuan
sejauh mata, mengendap
hingga menumpuk
berharap tak lapuk oleh usia

setiapkali embun dari nafasmu mendekap di kaca
ingin segera kutulisi aksara yang lekat dijiwa
agar kau tidak perlu meraguiku
namun embun itu terlalu cepat menghilang
bagai leleh dalam gigil malam
manakala ujung jariku masih terpana
dilingkar nafasmu yang mendaki
kepuncak lebih tinggi

resah ini membeku
dibelenggu kamar batu
pantulan sinar terhalang dinding
menunggu usai lenguh dan ronta
begitulah isyarat matamu
menggoda dan merambat
melingkar pundak
bagai nikmat yang berjatuhan, di kegelapan

Batulicin, 31 Januari 2013
Puisi Hati Bumi 06
Jam 22.40 WIT

Sunday, 27 January 2013

tetaplah disampingku


tetaplah disampingku

di penanggalan kulihat hari-hari gelisah
setumpuk beban hingga amarah melambai-lambai
meski harus kurobek satu per satu
... hari demi hari seraya kutancapkan pada paku di meja kerja
agar lembar-lembar kemarin dapat terkumpul
dikenang-ulang atau sekedar jadi perbincangan
saat kita di serambi dengan secangkir teh manis juga sekerat roti
lalu melepas penat seperti hari ini

di penanggalan kulihat mata yang tak pernah padam
merah setelah hari sabtu
beginikah akhir pekan kita, selalu
meski telah kita tinggalkan ribuan mata nan merah
entah pada merah merah minggu depan
atau tanggal-tanggal merah lainnya
sedang kau tetap menggamit tanganku
mesra dan tak pernah berubah

angin petang sepoi basah
sedang gerimis masih melanjutkan sapa
kita masih sempat menyimak kicau perinja
menari-nari di dahan mawar yang kau tanam
selayaknya aku bangga padamu, duhai
teman hidupku yang sama-sama melewati kerumitan
walau waktu masih menyimpan misteri
ayun langkahmu tetaplah disampingku

Batulicin, 27 Januari 2013
Puisi Hati Bumi 05
Jam 23.07 WIT

Saturday, 19 January 2013

segenang-kenangan di Jakarta

sungguh, ku tak sempat menuliskannya
andai dapat mengeja-bacakan kerdip mata
maka setiap membuka kelopaknya
adalah keindahan dalam berkas ingatan
menyulam bagai benang-benang rajutan
dari hari-hari memintal dengan nafas
mengurati tangan serta jemari
dari setiap ayunannya menjadi senyum

sungguh, ku tak sempat menuliskannya
biarlah setumpuk gelisah
beri waktu mengumpul tenaga
lalu sesekali bertanya
sudahkah kau buka tabir hatiku
meski selalu mengusik pikiran
terkabar dari angin
serta hujan yang membanjir di sana

Batulicin, 17 Januari 2013
Puisi Hati Bumi 04
Jam 22.47 WIT

pagi yang wangi di Haratai

air terjun Haratai
percik air jadi pelangi
menghempasi batu-batu
meresapi pori-pori bumi
hingga jiwa mengembun

pada pepohonan karamunting
dan jalar batang kangkung
bunga ungu mekar dibias mentari

anak tangga balai Malaris masih dingin
sesaat embun diusir telapak kaki
mata indah itu mengekori terbang pipit
hingga pada dahan-dahan sekawanan nyanyinya
merdu riuh rendah, semilir mendayu

ingin menyapa empunya dagu bangir
hitam rambut gadis-gadis desa
juntai di jendela bersama senyum sembunyi di ujuk

di sana, pagi yang wangi
menembus bagai rindu sutra
lara jika lama tak bersua

Batulicin, 15 Januari 2013
Puisi Hati Bumi 03
Jam 22.27 WIT